Showing posts with label Faith. Show all posts
Showing posts with label Faith. Show all posts

Wednesday, May 30, 2012

Bermain Dalam Game Bernama Dunia

Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengajak melihat dunia, seolah bermain game di komputer.

Merenungi makna firman ALLOH, bahwa dunia itu bagai permainan, maka kita bisa melihat, jazad tidak lebih sebagai karakter yang dimainkan, dan ruh sebagai orang yang memainkan karakter tersebut. Segala kerusakan fisik yang terjadi pada karakter yang dimainkan, sesungguhnya tidak merusak fisik ruh / pemain yang memainkannya.

Di alam dunia ini kita punya dua point, point kebajikan dan point keburukan. Mana yang lebih berat, itu yang menentukan. Ada juga live point sebagai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, di mana kematian akan datang jika live point habis, live point ini, bisa kita tambah, bisa pula kita kurangi. Permainan ini, bersifat multiplayer, yang pemainnya bergantian masuk dan keluar, hingga datangnya hari akhir.

Dalam game itu, seorang pemain bisa berperan sebagai orang tua, anak, tetangga, dan lain sebagainya. Namun, setelah game over, hubungan tersebut menjadi hilang sama sekali.


Wednesday, May 2, 2012

[Resensi] Koruptor Itu Kafir

Begitu melihat judul buku ini, saya langsung tertarik untuk membacanya. Melihat tim penulisnya, yang berasal dari Muhammadiyah dan NU, mungkin para calon pembacanya akan kaget. Kok keras ya? Sebenarnya, MUI sendiri tidak sepakat kalau koruptor itu dikatakan kafir. Tapi saya sendiri cenderung untuk setuju dengan pendapat buku ini, walaupun dengan sedikit perubahan redaksi, "Korupsi itu perbuatan kafir."

Ada pernyataan yang menurut saya perlu diklarifikasi tentang anggapan terlalu kerasnya pernyataan dalam buku ini, yakni pernyataan tentang yang berhak mengkafirkan hanya ALLOH. Menurut saya, pernyataan ini benar, namun dalam konteks argumen untuk melawan pernyataan di atas adalah kurang tepat.

Pertama, karena buku tersebut tidak mengkafirkan orang perorangan, namun cenderung menyatakan bahwa korupsi itu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang kehilangan rasa imannya, sebagaimana hadits, "Tidak beriman seorang pencuri ketika mencuri." Selain itu, fatwa tentang kafirnya seseorang atau sekelompok orang itu pada kenyataannya ada.

Kedua, meskipun perbuatan korupsi hanya dinyatakan sebagai perbuatan haram. Jika seseorang terus menerus melakukan perbuatan haram, tanpa ada keinginan bertobat, maka hal itu akan membawa pada kekafiran dirinya.

Ketiga, kafir tidak selalu bermakna murtad. Tapi kafir bisa juga berarti mengingkari sebuah perbuatan dengan berbagai alasan. Dan jangan lupa pula tentang kufur nikmat, yang artinya menutupi atau seolah-olah lupa terhadap suatu nikmat, itu juga kafir, namun belum bisa dikatakan murtad.


Referensi:
  1. MUI: Yang Menentukan Kafir Itu Allah, Bukan Orang. (19 Agustus 2010). Tempo.

Friday, December 16, 2011

Jilbab vs Akhlak


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

"Hatinya dulu di jilbab in, baru pakaiannya".
"Berjilbab tapi akhlaknya jelek."

Barangkali kita sering mendengar kedua kalimat di atas, maupun kalimat-kalimat sejenis, yang menghubungkan antara permasalahan jilbab dan akhlak. Permasalahannya adalah, benarkah seseorang yang berjilbab harus berakhlak baik.

Ada analogi yang baik mengenai permasalahan ini. Yakni, ketika kita mendapat ujian, dengan beberapa soal misalnya. Katakanlah 10 (sepuluh) soal. Maka, apabila kita tidak atau tidak mau atau tidak bisa mengerjakan salah satu soal, maka kita hanya akan mendapatkan nilai 9 dari 10 soal tersebut.

Hal ini bisa diperjelas dengan adanya hadits yang menyatakan seseorang itu masuk neraka, karena selalu menyakiti tetangganya, meskipun orang itu ibadahnya kuat. Pertanyaannya, apakah orang ini harus baik dulu, baru sholat? Tentu tidak, karena jika dibalik, gak pernah sholat karena ingkar, meskipun baik pada tetangga juga bisa masuk neraka.

Begitu pula hubungan antara jilbab dengan sikap baik. Keduanya sebenarnya termasuk dalam akhlak. Satunya akhlak berpakaian, satunya akhlak dalam bersikap. Tentu saja keduanya tidak berhubungan, mengerjakan yang satu bukan berarti dengan syarat sudah mengerjakan yang lain terlebih dahulu.

Seperti halnya ujian, anda bisa mengerjakan nomor mana saja yang lebih dahulu, yang menurut anda lebih mudah. Dan dalam ujian, setiap nomor yang anda kerjakan tetap mendapat point. Mungkin, satu-satunya perbedaan antara ujian dan konsepsi pelaksanaan perintah ALLOH dalam agama Islam, bahwa semua penilaian ujian tadi baru dinyatak sah sebagai suatu nilai ujian setelah anda meyakini kalimat LAA ILAAHA ILLA ALLOH

Permasalahannya sekarang, lebih sulit mana, menata sikap ataukah memakai jilbab? Dari sudut pandang saya pribadi, tentu saja tampaknya lebih mudah memakai jilbab. Jadi, mengapa tidak mulai dari sekarang? Kerjakan yang lebih mudah dahulu.

Wallahu 'alam.

Wednesday, December 14, 2011

Gelas Yang Manakah Saya?

Membaca artikel Pak Andrie Wongso. Dipaparkan bahwa ada 5 macam sikap seseorang yang mendapatkan suatu pelajaran, diantaranya:

1. Gelas yang tertutup
Gelas ini tidak tidak dapat diisi dengan apapun dan menggambarkan sikap seseorang yang tidak mau menerima kata-kata apa pun dari siapa pun. Orang ini menganggap ajaran orang lain adalah salah, meskipun dirinya tidak tahu apa yang benar. Ia tak mau menimbang & merenungkan kata-kata orang lain.

2. Gelas yang sudah penuh berisi air
Karena itu, gelas ini tidak dapat diisi dengan apapun. Gelas ini menggambarkan sikap seseorang yang mau mendengar, tetapi karena di dalam dirinya sudah ada prinsip yang sangat dipercayainya maka ia tidak mau lagi menimbang & merenungkan kata-kata dari orang lain.

3. Gelas yang pecah
Karena itu senkalipun dapat diisi, gelas ini tak bisa menampung air yang dituangkan ke dalamnya. Gelas ini menggambarkan seseorang yang tidak mampu mencerna ajaran. Karena itu, meskipun dia ini mau mendengar serta mau merenungkan ajaran yang diterima, ada halangan yang membuat dirinya tak mampu memahami ajaran. Misalnya halangan fisik atau mental.

4. Gelas yang berisi kotoran.
Apapun yang dituangkan ke dalam gelas ini akan menjadi kotor. Gelas ini menggambarkan seseorang yang punya sifat jahat. Jika orang ini bertemu dengan orang yang lebih pandai, ia akan menjadi iri. Kalau bertemu dengan yang lebih bodoh, ia akan menghina. Kalau bertemu dengan yang setara, ia menganggapnya sebagai pesaing. Orang seperti gelas ke empat adalah tipe orang yg paling dihindari oleh seorang guru. Jika ada murid seperti ini, guru yang bijaksana akan menjauh.

5. Gelas kosong
Ini gelas yang bisa diisi oleh berbagi macam pengetahuan, dan penggambaran ini merupakan sikap seseorang yang ideal untuk belajar.

Gelas yang manakah saya?

Dalam komentar artikel tersebut, banyak yang memilih menjadi gelas kosong.

Bagi saya, saya bukanlah gelas kosong. Gelas kosong hanyalah berlaku bagi bayi. Kalau ditanya, seperti apakah saya? Saya memilih pilihan kedua, gelas yang berisi penuh air. Bukannya kalau ditambah air bisa tumpah? Ya, bisa tumpah. Tapi ingat, yang tumpah bukan hanya air yang baru dituangkan, tapi bisa juga air yang sudah lama yang tumpah. Jadi, bisa dikatakan, saya ingin memilih, ilmu manakah yang baik.

Bagi saya, pilihan nomor 2 tersebut ada penjelasan yang kurang tepat, yakni: "maka ia tidak mau lagi menimbang & merenungkan kata-kata dari orang lain". Sekali lagi, ketika gelas diisi, bukankah yang tumpah bukan hanya isi yang baru, namun bisa juga isi yang lama? Jadi, sesungguhnya gelas yang penuh itu merenungkan, mana ilmu lamanya yang harus ia buang, mana yang harus tetap ada.

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal

Saturday, December 10, 2011

Beriman: Menciptakan Kondisi Seaman Mungkin

Sebuah hal yang menarik tentang keimanan, ternyata adalah kita harus berusaha menciptakan kondisi "aman" sebaik mungkin. Hal ini bisa terbaca dari Surat al-Baqarah ayat 283, yang memanggil semua orang yang beriman. Ayat ini menunjukkan bahwa orang beriman tidak berarti tidak boleh meminta bukti, bahkan di ayat tersebut sangat dianjurkan.

Betapa banyak dari kita yang berkata, "Masa tidak percaya sih?". Bahkan ayat tersebut menunjukkan bahwa meskipun percaya pun kita perlu bukti. Begitu pula keimanan, keimanan adalah rasa percaya. Keimanan buta, yakni keimanan tanpa hujjah, adalah sesuatu yang salah. Tidak salah kiranya, Ibrahim pun meminta bukti pada Tuhannya. Apakah Tuhannya tidak dipercaya? Sebaliknya, Tuhannya pun mengijinkan.

Keimanan haruslah menjadikan perasaan kita aman. Termasuk di dalamnya aman dari keraguan terhadap apa yang kita imani. Dan itu adalah hak yang diberikan oleh ALLOH kepada setiap manusia. Dan seringkali bukti itu didapatkan dengan menanyakan keimanan kita hingga keimanan itu menjadi semakin mantap, bukan sekedar keimanan yang didapatkan dari turunan.

Tuesday, December 6, 2011

Cinta Itu Butuh Alasan

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa seseorang itu dikatakan mencintai jika dia mencintai seseorang tanpa alasan. Bagi saya, cinta itu harus ada alasan.

Kita lebih mencintai anak kita daripada anak tetangga kita, alasannya adalah itu anak kita. Kita lebih mencintai orang tua kita lebih dari orang tua yang lain karena itu adalah orang tua kita. Kita lebih mencintai istri kita lebih dari wanita lain karena itu adalah istri kita.

Bagaimana dengan memilih istri? Memilih istri itu bukan masalah cinta. Tapi lebih seperti permasalahan falsafah memilih pohon tertinggi dalam satu perjalanan tanpa boleh kembali. Cinta itu tumbuh setelah dia menjadi istri kita.

Cinta itu bagaikan iman. Bisa menebal serta menipis. Sebagaimana cinta kita kepada ALLOH. Sebuah hal yang tampak tidak berhubungan. Cinta bisa menipis, kala kita melupakan hal-hal yang membuat kita cinta, atau alasan-alasan untuk tidak mencintai lebih besar daripada alasan-alasan untuk mencintai.

Friday, December 2, 2011

Mengakali Hukum Agama?

"Punya dua suami", begitulah inti berita-berita yang muncul di Cianjur pada awal November kemarin. Dalam Islam, ada sebuah hukum di mana, jika seorang istri sudah ditalak tiga, maka tidak boleh kembali ke suami sebelumnya. (ref). Membaca berita ini, saya cukup kaget, ternyata ada juga ya cerita di hadits ini yang sesuai dengan cerita masa kini.

Saya melihat kedua suami-istri tersebut agak paham agama. Saya katakan agak. Kemudian berusaha mengakali hukum agama, jika benar cerita versi sang istri. Namun, apa daya, hati berkata lain. Suami baru dari sang istri, lebih mengikat hatinya.

Jika benar cerita versi sang istri, maka kedua suami istri itu bersalah. Walaupun, jika dipandang dari hukum positif yang mengenal surat nikah, hanya sang istri yang salah.

Wallahu'alam.

Wednesday, November 23, 2011

Tetaplah Berdoa Dengan Penuh Kualitas

Pernah mengalami seperti ini, anda berdoa selama bertahun-tahun tidak dikabulkan, sebagai misal anda berdoa memohon putra/putri. Di antara kita, mungkin akan menurunkan kualitas do'a kita. Sebagai misal, pada awalnya kita meminta putra/putri yang sholihah. Lama kelamaan do'a kita turun kualitasnya,
"Terserah Ya ALLOH, pokoknya saya dikasih anak."
Keteguhan kita untuk berdo'a dengan penuh kualitas, adalah sebuah keniscayaan, karena itu adalah perintah dari ALLOH, sebagaimana dicontohkan dalam al-Qur'an dalam kisah Nabi Zakaria dalam Surat Ali Imran (3) ayat 38. Lihat saja kualitas doa beliau, yang tetap menginginkan anak yang istimewa, walaupun hingga lanjut usia belum terkabulkan.
"Ya ALLOH, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang thoyyib (baik)."
Sungguh, cobaan tidak mempunyai anak akan menyebabkan engkau berselisih, sebagaimana  Zakariya berselisih dengan istrinya. [QS Al-Anbiyaa' (21): 90] Sungguh aku bersyukur, karena Zakariya diberi cobaan ini hingga berusia sangat tua [QS Maryam (19): 4], sedang aku hanya 4 tahun masa pernikahan.

Sungguh jika engkau belum dikaruniai anak, dan dokter berkata bahwa engkau atau istri engkau mandul, percayalah perkataan dokter itu benar sesuai dengan kadar ilmunya. Carilah dokter yang menurutmu lebih berilmu, dan jika dokter itu juga berkata bahwa dirimu atau istrimu mandul, percayalah perkataan dokter itu benar sesuai dengan kadar ilmunya. Bahkan jika seluruh dokter di seluruh dunia berkata bahwa dirimu atau istrimu mandul, percayalah itu benar sesuai dengan kadar ilmu mereka.


Namun sungguh ilmu dokter itu terbatas dan ilmu ALLOH tidak terbatas. Jika dokter tidak tahu ilmunya, siapa lagi yang paling layak kita mintai pertolongan dengan sebenar-benar pertolongan. Karena ilmu ALLOH tiada batasnya.

Terima kasih Ya ALLOH, Engkau beri aku putri, sebagaimana yang aku pinta. Sungguh kisah Nabi Zakaria dalam al-Qur'an, sebaik-baik kisah untukku yang Engkau turunkan dari langit.

PS:
Bagi yang ingin menikah, selalu mintalah calon yang terbaik, walaupun belum terkabulkan, jangan pernah menurunkan standart doa. Begitu pula doa-doa yang lain.

Tuesday, August 23, 2011

Ada

Saya khawatir terhadap suatu masa
yangg roda kehidupannya dapat menggilas keimanan.
Keimanan hanya tinggal pemikiran,
yang tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal,
Ada orang berakal tapi tak beriman.
Ada lidahnya fasih tapi berhati lalai,
Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.
Ada yang ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat
Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat
Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan
Ada pelacur yang tampil jadi figur.
Ada orang punya ilmu tapi tak paham,
Ada yang paham tapi tak menjalankan.
Ada yang pintar tapi membodohi,
Ada yang bodoh tak tahu diri.
Ada orang beragama tapi tak berakhlak
Ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.

Lalu diantara semua itu dimana saya berada ?

--- Ali bin Abi Thalib ---

Tuesday, January 26, 2010

Meneladani Ibrahim: Mencari Tuhan


Pencarian Tuhan termasuk proses yang sangat tua usianya, setua usia manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dalam peradaban manapun dan di manapun, proses ini senantiasa termasuk di dalamnya. Kecenderungan untuk mendapatkan rasa aman dan mengalihkan diri dari rasa takut telah mendorong mereka untuk mengaitkan dirinya dengan sesuatu yang dianggap lebih tinggi yang kemudian diidentifikasikan sebagai Tuhan. Pada masyarakat primitif, sesuatu itu berasal dari kekuatan-kekuatan alam yang menampilkan diri dalam benda-benda dan sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan. Lahirlah kepercayaan terhadap benda-benda dan dewa-dewi yang menjadi personifikasi dari kekuatan-kekuatan tersebut.

Saturday, January 16, 2010

Wanita, Sang Penghuni Neraka Terbanyak


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Seringkali, para pria muslim berbangga diri terhadap para wanita muslim, dengan sebuah pernyataan bahwa kaum wanita adalah penghuni paling banyak di neraka. Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, karena sesuai dengan hadits:


Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy berkata,’Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian. Mereka bertanya,’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah saw?’ Beliau saw menjawab,’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau saw berkata lagi,’Bukankah apabila dia mendapatkan haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau saw berkata,’itulah kekurangan agama.’ (HR. Bukhori)

Yang menjadikannya salah adalah bahwa dari hadits diatas, diopinikan seolah-olah, kaum pria adalah penghuni paling banyak di surga. Tentu saja pendapat ini kurang tepat, karena ada hadits yang juga menyatakan bahwa penghuni paling banyak di surga adalah wanita, sesuai dengan hadits berikut:

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dia berkata, "Ada kalanya kalian berbangga atau waspada: Manakah yang lebih banyak di surga, laki-laki atau perempuan?" Abu Hurairah menjawab, "Bukankah Abu Qasim (Rasulullah) SAW bersabda, "Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga berbentuk bulan malam purnama, disusul rombongan selanjutnya berupa bintang kejora yang paling terang di langit. Masing-masing orang di antara mereka menggandeng dua orang istri. Tidak ada yang membujang di dalam surga." (HR. Muslim)

Karena jangan lupa pula, wanita pulalah yang paling banyak jumlah penghuninya di dunia ini, salah satunya menurut hadits berikut:

"Di antara tanda-tanda hari kiamat itu ialah kian langkanya ilmu pengetahuan, kian umumnya kebodohan, kian terang terangannya dilakukan perbuatan zina, kian meningkatnya jumlah wanita, sebaliknya, kian menyusutnya jumlah kaum pria, sehingga untuk lima puluh orang wanita hanya ditanggung oleh satu orang laki-laki." (HR. Bukhari)

Jadi, kaum pria, jangan sombong.

Wallohu a'lam


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Posting asli ada di Facebook pada 12 Januari 2010

Wednesday, October 7, 2009

Gempa Padang dan Otak Atik Matuk al-Qur'an

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Tadi pagi, ada sebuah pembicaraan menarik 2 rekan mahasiswa mengenai kejadian Gempa Padang, di mana dikatakan gempa Padang terjadi pada pukul 17.16. Yang kemudian dihubungkan dengan surat al-Isra' (17) ayat 16 yang berbunyi:

Tuesday, September 15, 2009

Membaca Bismillah, Meningkatkan Semangat Kuliah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Sesungguhnya ALLOH memerintahkan kita, umat Islam, untuk membaca bacaan بِسْمِ اللَّهِ ketika memulai sesuatu pekerjaan, diantaranya ketika kita memulai belajar atau kuliah. Namun sepertinya perintah ini tidak mempunyai makna apa-apa bagi kita.

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan perintah tersebut tidak mempunyai makna sama sekali bagi kita, umat Islam. Pertama, kita tidak pernah membacanya ketika memulai sesuatu pekerjaan. Kedua, kita tidak pernah mau belajar untuk memahami makna بِسْمِ اللَّهِ tersebut.

Friday, August 7, 2009

Surat al-Fatihah (1) Ayat 1: Mengagungkan ALLOH

بسم الله الرحمن الرحيم

Berdasarkan sifat ALLOH al-Adziim ( العظيم ), Seorang mu'min yang akan melakukan sebuah perbuatan dan mengawali perbuatannya dengan ucapan Bismillah, maka si pelaku itu haruslah mempunyai etos:

Wednesday, July 29, 2009

Surat al-Fatihah (1) Ayat 1: Meninggikan Nama ALLOH

بسم الله الرحمن الرحيم

Bacaan Bismillah ( بسم الله ) dianjurkan untuk diucapkan pada awal kita melakukan sesuatu semisal makan atau bekerja.

Bacaan Bismillah ini membawa makna semua asma'ul husna ALLOH, terutama al-Aliy ( العلي ) dan al-Adliim ( العظيم ).

Friday, January 25, 2008

Memilih Berdasar Aqidah

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Perlu dicatat, hal di bawah ini belum pernah terjadi pada saya.

Studi kasus pertama:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."
Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"
Jawabnya, "Kan mas belum jadi suamiku."

Studi kasus kedua:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Kan jilbab itu gak wajib"
...

Studi kasus ketiga:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."
Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"
Jawabnya, "Karena aku masih belum bisa lepas dari ortuku."

Dalam studi kasus di atas, ketiga orang itu tidak mau berjilbab. Namun, ketika aku bertemu studi kasus yang pertama, jelas orang itu langsung aku coret dari daftarku. (sombong banget) Lho, kenapa? Karena dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, bukan karena mempunyai pemahaman yang berbeda. Tapi dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, dengan syarat orang lain. Hal ini sangat berhubungan dengan aqidah. Ketika sebuah ibadah sudah mampu dilaksanakan tanpa ada yang menghalang-halangi, yang berarti saat itu, dia mengalami kondisi yang paling mudah untuk merubah diri, namun dia tidak mau berubah, perlu dipertanyakan niatnya. Atas dasar apa dia ingin berubah? Sesungguhnya amal itu berdasarkan niatnya.

Bagaimana dengan studi kasus kedua dan ketiga. Diskusi-diskusi selanjutnya akan sangat menentukan. Yang jelas, aqidah harus diutamakan.

Monday, July 2, 2007

Taqdir + Ikhtiar + Do'a = Nasib

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Ketika kita membahas tentang nasib kita, maka ada 3 komponen yang berperan dalam penentuan nasib kita, yakni taqdir, ikhtiar, dan do'a.

Taqdir adalah aturan dan perhitungan yang telah ditentukan oleh ALLOH. Taqdir sendiri pada prinsipnya tidak bisa diubah kecuali ALLOH yang mengubahnya. Taqdir sendiri terbagi jadi dua. Taqdir pertama, taqdir yang Insya ALLOH tidak bisa dilanggar sama sekali oleh manusia di dunia, di antaranya hukum alam. Taqdir kedua, adalah taqdir yang bisa dilanggar oleh manusia di dunia, di antaranya syari'at, namun tetap saja, ada perhitungannya di akhirat.

Dengan taqdir-taqdir yang mengikat kita itulah, kita berusaha sebaik-baiknya untuk mencapai nasib yang terbaik. Menganalisa taqdir-taqdir yang berlaku pada kita dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melanggar taqdir kita sehingga mencapai nasib yang terbaik. Usaha-usaha itulah yang disebut ikhtiar.

Bagaimana dengan peran do'a? Seberapapun cerdas kita, kita tidak mungkin bisa menganalisa taqdir yang berlaku pada kita, setiap detiknya dalam setiap ikhtiar kita. Dengan do'a, ALLOH memberikan kita nasib yang terbaik dari taqdir yang berlaku pada kita, baik taqdir yang berhasil kita analisa maupun yang terlepas dari analisa.

Nasib adalah hasil akhir dari ikhtiar yang kita lakukan berdasarkan analisa taqdir yang kita lakukan dibarengin dengan pertolongan ALLOH melalui do'a yang kita panjatkan.

Dalam pembahasan taqdir dan nasib ini, kedua istilah tersebut sering bercampur aduk. Taqdir adalah sesuatu yang kita tidak berhak mengubahnya, sedang nasib adalah sesuatu yang kita diberi hak untuk mengubahnya, tentunya dengan ikhtiar dan do'a.

Wallahu 'alam bi Shawwab.

Kata kunci dalam Al-Qur'an untuk mencari penjelasan ini. (قدر, نصب )


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Wednesday, May 9, 2007

Ikhlas Dalam Niat

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah ALLOH dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
[Surat al-Baayinah ayat 5]



Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) ALLOH, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah ALLOH telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan ALLOH terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
[Surat al-Hajj ayat 37]



Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti ALLOH mengetahui." ALLOH mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan ALLOH Maha Kuasa atas segala sesuatu.
[Surat Ali Imran ayat 29]


Niat letaknya di dalam hati. ALLOH Subhanahu wa Ta'ala mengetahui apa yang di dalam hati, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi ALLOH. Manusia harus mengikhlaskan niat karena ALLOH dalam segala ibadahnya. Jangan sampai berniat dalam ibadahnya, kecuali mengharapkan ridla ALLOH dan kebahagiaan di akhirat. ALLOH hanya kan mengganjar amal perbuatan manusia pada hari kiamat, sesuai dengan niat.

Syaithan kadang datang kepada kita ketika kita ingin berbuat baik. Syaithan berkata bahwa kita mengerjakan ini karena riya'. Lalu Syaithan melemahkan semangat kita dan menghalanginya. Akan tetapi, janganlah kita berpaling kepada godaan itu dan jangan kita turuti.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Monday, May 7, 2007

Ingin Surga Takut Neraka

Bismillah ar-Rahman ar-Rahman

Kawan, menanggapi dirimu yang mengatakan bahwa ibadah yang dilakukan karena ingin surga dan takut neraka itu bukan perbuatan yang ikhlas. Aku dulu juga pernah berfikiran seperti itu kawan.

Kamu tahu kawan, ketika aku berfikiran seperti itu, aku jadi malas beribadah, karena semuanya jadi terasa berat. Gimana lagi, ibadahku jadi terasa sia-sia semua. Tidak ada motivasi sama sekali.

Hingga aku pun membaca al-Qur'an. Jika al-Qur'an memperbolehkan aku beribadah karena takut neraka dan ingin masuk surga, mengapa aku harus berpikiran macam-macam bahwa ibadahku tidak akan pernah diterima.


Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
[Surat al-A'raaf ayat 42]


Kawan, perintah untuk takut neraka bisa kau baca di al-Qur'an:


Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
[Surat al-Baqarah ayat 24]


Bahkan ALLOH sengaja memerintahkan kita untuk bersegera ke surga yang tentu saja maksudnya untuk segera beramal.


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
[Surat Ali Imran ayat 133]


Aku kira kawan, janganlah kamu mempersulit dirimu sendiri. Karena Syaithan suka mempersulit agama, sehingga kita jadi malas beribadah. Tapi tentu saja, jangan pula meremehkannya.

Kawan, Waalohu 'Alam.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Monday, April 2, 2007

Masalah Peminangan (Reposting)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Artikel berikut saya posting ulang dari blog saya yang lama, karena urgensi dengan cerita-cerita yang tercampur-aduk tentang saya akhir-akhir ini, agar mereka yang menyebarkan cerita tersebut berhati-hati.


Jangan Seseorang Meminang Pinangan Saudaranya

Ibnu Umar r.a. menuturkan:
"Nabi s.a.w. melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang mengizinkannya kepadanya."
(HR. Bukhari Bab Nikah No. 5141, Muslim Bab Nikah No. 1412)

Dari "Abdurrahman bin Syamasah bahwa dia mendengar 'Uqbah bin 'Amir berdiri di atas mimbar seraya berucap:
"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya. Oleh karena itu tidak halal bagi seorang mukmin membeli atas pembelian saudaranya dan tidak pula meminang atas pinangan saudaranya hingga dia meninggalkannya."
(HR. Bukhari Bab Nikah No. 5142)

Juga renungkan sikap Abu Bakar r.a. ketika Umar bin Khattab menawarkan putrinya Hafsah kepadanya yang beliau diamkan saja tanpa menanggapinya. Sesudah sah dipinang Rasulullah s.a.w. barulah beliau berkata: "Sebenarnya tawaranmu yang lalu tidak aku tanggapi karena aku sudah tahu bahwa Rasulullah s.a.w. sudah pernah menyebutnya. Namun aku tidak mungkin membuka rahasia Rasulullah s.a.w. Tapi kalau beliau meninggalkannya, tentu saya terima tawaranmu itu."


Rahasiakanlah Peminangan

“Kumandangkan pernikahan … dan rahasiakan peminangan”
(HR. Ummu Salamah r.a.)*

Juga renungkan sikap Abu Bakar r.a. ketika Umar bin Khattab menawarkan putrinya Hafsah kepadanya yang beliau diamkan saja tanpa menanggapinya. Sesudah sah dipinang Rasulullah s.a.w. barulah beliau berkata: "Sebenarnya tawaranmu yang lalu tidak aku tanggapi karena aku sudah tahu bahwa Rasulullah s.a.w. sudah pernah menyebutnya. Namun aku tidak mungkin membuka rahasia Rasulullah s.a.w. Tapi kalau beliau meninggalkannya, tentu saya terima tawaranmu itu."

Adapun definisi peminangan tidak selalu berarti ta’aruf atau bahkan sudah dalam proses ta’aruf. Cukuplah ketika seseorang mengatakan bahwa dia berminat untuk menikahi orang lain, yang mungkin dikarenakan kita dekat dengannya sehingga orang tersebut cerita dengan kita, maka kita tetap harus merahasiakannya.

Di sinilah Islam memberikan keseimbangan antara perintah untuk tidak meminang orang yang sedang dipinang oleh saudaranya sesama muslim dengan cara memerintahkan orang yang tahu masalah peminangan itu untuk merahasiakannya. Sehingga wanita tersebut masih bisa dipinang oleh orang lain apabila yang meminang tadi terlalu lama mengambil keputusan.

Selain itu, tindakan dalam merahasiakan peminangan itu untuk memelihara kehormatan, nama baik dan perasaan hati si wanita apabila ternyata peminangan yang sudah ramai dibicarakan orang itu ternyata dibatalkan.

Wallahu ‘alam.

Catatan:
* Hadits ini belum saya ketahui keshahihannya, hadits ini saya ikut sertakan hanya karena hadits ini menguatkan cerita dalam paragraf selanjutnya yang terdapat dalam Sirah Nabawiyah.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi


(UPDATE)
Permasalahan yang berhubungan:
http://kholimi-id.blogspot.com/2007/04/april-mob-ya-mr-crab.html