Setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan Surabaya-Nganjuk, akhir-akhir ini saya kembali sering melakukan perjalanan Surabaya-Nganjuk. Bus-bus yang pernah saya amati sebelumnya belum banyak berubah, kecuali bus Eka. Ada beberapa perubahan yang saya perhatikan.
Pertama, kursi. Kursi di bus Eka sekarang diperapat, jumlah kursinya tampaknya ditambah. Agak mengecewakan bagi saya. Serasa seperti naik bus Restu. Bus Restu sendiri, baik patas (jika pernah melakukan perjalanan Surabaya-Malang pasti mengerti) maupun tidak patas, kursinya susunananya cukup rapat. Cukup tidak nyaman jika orang yang di depan kita menurunkan kursinya, karena lutut kita kemungkinan besar kena kursi depan kalau yang di depan kita menurunkan kursinya. Namun, ada kompensasi yang cukup menyenangkan hati bagi sebagian orang, yakni ...
Kedua, Wifi. Wifi, bisa dikatakan fasilitas yang cukup menyenangkan bagi saya, sebagai kompensasi dari semakin rapatnya kursi. Wifi-nya juga lumayan cepat untuk sekedar browsing di mobile. Namun ada kekurangannya sedikit, tampaknya powernya Wifi disatukan dengan powernya TV. Jadi setiap kali kondekturnya mematikan TV, dijamin Wifi-nya juga ikut mati. :P
ali sofyan kholimi at id
Computer Science, Humanity and Religion Contemplation
Friday, May 24, 2013
Zakat untuk Mendanai Kegiatan Politik?
Melihat pembelaan mereka yang mati-matian terhadap kelomponya, akhirnya mereka mengeluarkan daftar asal dana mereka. Cukup kaget melihatnya, "zakat", ya dana zakat digunakan untuk kegiatan berpolitik mereka.
Sekiranya dana zakat digunakan untuk kegiatan atas nama fi sabilillah (yang diperluas), ada sebuah pertanyaan, bukankah zaman Rasulullah dan Khalifah Rasyidin tidak menggunakan dana zakat. Mereka memang dapat dari baitul mal, tapi kalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata uangnya berasal dari Ghanimah dan sejenisnya.
Jika mereka memberikan zakat tersebut hanya kepada orang-orang yang mendukung mereka, alangkah eloknya tentang cerita di bawah:
Sekiranya dana zakat digunakan untuk kegiatan atas nama fi sabilillah (yang diperluas), ada sebuah pertanyaan, bukankah zaman Rasulullah dan Khalifah Rasyidin tidak menggunakan dana zakat. Mereka memang dapat dari baitul mal, tapi kalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata uangnya berasal dari Ghanimah dan sejenisnya.
Jika mereka memberikan zakat tersebut hanya kepada orang-orang yang mendukung mereka, alangkah eloknya tentang cerita di bawah:
Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawiyah, orang-orang dekat Ali menyarankan agar ia mengambil uang dari baitul mal sebagai hadiah bagi orangorang yang membantunya. Mendengar ini, Ali sangat marah dan berkata, "Apakah kalian memerintahkan aku untuk mencari kemenangan melalui kezaliman?"Ya ALLOH, jadikanlah kami tetap amanah.
Masihkah Kita Punya Kedaulatan di Udara?
Mendengar kabar adanya pesawat US yang mendarat di Aceh yang tidak memiliki surat ijin. Muncul sebuah pertanyaan. Masihkah kita punya kedaulatan di udara kita? Bukankah sebelumnya juga ada kabar bahwa pesawat Indonesia pernah sempat di-"lock" di wilayah Indonesia sendiri?
Labels:
indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)