Thursday, July 28, 2016

Selamat Datang di Masjid Khadijah, Kucur, Dau, Malang

Sekedar catatan harian mungkin. Ahad kemarin bisa dikatakan hari yang melelahkan. Pada hari itu ada beberapa jadwal, silaturrahim, belanja, takziyah (tentu saja yang ini tidak direncanakan), dan terakhir acara halal bi halal PCM Dau, Kabupaten Malang. Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu semua, kecuali satu, listrik di rumah padam. :D Lho, memang apa pengaruhnya yang satu ini?

Begini ceritanya, gara-gara listrik padam sejak pagi, hape saya kehabisan energi di batterai-nya. Nah, di situlah cerita ini bermula. Saat itu, sesudah Ashar, waktunya mendatangi undangan halal bi halal PCM Dau. Ada permasalahan, saya bukanlah orang yang mengenal seluk beluk Malang dengan baik, satu-satunya yang saya ingat, Kucur itu berada di atas jika melewati jalan yang menuju Pondok ar-Rahmah Putri, yang tentunya saya dapatkan dari browsing di Google Map sehari sebelumnya.

Sebenarnya Kucur itu relatif lebih dekat dengan tempat saya tinggal saya saat ini, dibandingkan dengan Gondanglegi yang pernah saya datangi dengan waktu tempuh 4 jam hanya gara-gara Navitel saya memberi petunjuk arah jalan yang mudah tapi muter lewat mana-mana, padahal bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam saja.

OK, kembali ke misi perjalanan ke Kucur. Jam menunjukkan ke angka 4. Jam 4 sore. Akhirnya saya nekat berangkat, sambil pamit ke istri. Sekali lagi, hape saya mati. Satu-satunya jalan adalah saya berhenti di perempatan menuju jalan ke Pondok Pesantren ar-Rahmah Putri. Di situ saya tanya ke seseorang tentang arah ke Kucur. Yang ditanyai juga agak kaget. "Masih jauh Mas." Saya jawab, "Gak pa pa." Akhirnya ditunjukkan ke arah yang saya ingat memang sesuai dengan survei ke Google Map sehari sebelumnya. Namun tentunya detailnya masih susah, oleh sebab itu, setiap ada persimpangan, saya pasti berhenti dan bertanya di persimpangan tersebut.

Walaupun aktivitas berhenti di setiap persimpangan ini membuat perjalanan semakin lambat, tapi bisa dikatakan relatif lancar, hingga akhirnya menuju suatu jalan yang tidak beraspal dan masih berbatu. Di sinilah saya menjalankan motor saya dengan mengucapkan banyak-banyak istighfar. Yup, motor lama saya yang sudah saya miliki sejak jaman kuliah ini, dan memiliki latar belakang sejarah panjang hingga masa SMA saya ini memang bukanlah motor yang cukup fit dalam kondisi jalan seperti itu. Saya ada motor lain, jenis matic, tapi entah kenapa motor ini masih melekat di hati. :D Beberapa kali saya didahului oleh motor lain yang kalau bukan motor matic maka pastilah itu motor trail. Setiap kali mendahului, dalam beberapa detik mereka hilang dalam pandangan. Bisa saja saya ngebut, tapi rem depan saya cukup keras, sehingga susah di rem.

Saya tidak tahu berapa lama melewati jalan yang tidak rata ini, tapi gelap sudah datang. Yup Maghrib telah datang. Alhamdulillah tiba-tiba ketemu persimpangan yang keduanya sama-sama mulus jalannya. Tapi Maghrib telah tiba. Agak jauh sepertinya terlihat suatu toko kecil, saya tanya ke Toko tersebut, Kucur di mana? Ternyata saya sudah sampai Kucur. Alhamdulillah. Lalu saya lanjutkan tanya di mana Masjid Khadijah? Bapaknya pun menunjukkan arahnya.

Dari toko tersebut, masih ada dua persimpangan lagi, dan saya beruntung di setiap persimpangan tersebut, ada toko kecil yang bisa ditanyai. Alhamdulillah, sampailah saya di Masjid Khadijah, tepat setelah peserta halal bi halal selesai sholat Maghrib dan mau pulang. :D Saya langsung ambil wudhu dan sholat Maghrib sendiri, kemudian duduk melepas lelah. Alhamdulillah dapat kue. Melihat ada beberapa teman yang mau pulang dan saya tahu rumahnya mendekati arah rumah saya, akhirnya saya menguatkan diri untuk pulang, daripada tidak tahu jalan lagi. :D

Sekarang cerita tentang pulangnya, terjadi sekali lagi, karena saya tidak berani ngebut, teman yang saya buntuti segera menghilang dari pandangan. :D Alhamdulillah, saya sampai di suatu papan yang menunjuk ke dua arah, satunya menuju Dieng, satunya menuju Dau. Saya menuju Dau, yang sekali lagi saya benar-benar buta arah. Berjalan jauh, masih belum ada tanda-tanda papan penunjuk arah, padahal beberapa persimpangan terlewati, hingga muncul tulisan Sengkaling. Masuk ke situ, berjalan beberapa lama hingga bertemu persimpangan lagi. Alhamdulillah, ini adalah jalan yang sudah saya ketahui, dan sudah beberapa kali melewatinya. Saya pun bisa menuju rumah dengan yakin. Akhirnya saya sampai di rumah sekitar 5 menit sebelum Isya'.

Akhir cerita, keesokan harinya kaki saya kram semua, mungkin akibat melewati jalan yang masih belum diaspal itu. Terpikir oleh saya, pasti susah sekali jadi Bupati Malang, semua infrastruktur yang mudah pasti melewati kota Malang.

Tuesday, May 31, 2016

Benarkah Muhammadiyah Pernah Ikut Standar Hilal Tinggi?

Beberapa hari ini, ada beberapa artikel yang terkesan menyerang Muhammadiyah berseliweran, di antaranya yang berjudul: "Menguak Rahasia Muhammadiyah Selalu Nampak Beda dengan Nahdlatul Ulama (NU)".

Artikel tersebut banyak sekali menuliskan hal-hal yang pada intinya kehadiran Majelis Tarjih-lah yang menyebabkan Muhammadiyah berbeda dengan NU. Beberapa point dalam artikel tersebut sudah banyak dibantah, namun ada salah satu point yang nampaknya saya belum melihat bantahannya. Salah satunya adalah sebagaimana kutipan dalam artikel tersebut:

"Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya."


Kalau saja kita mau jeli, sedikit saja jeli, atau minimal bertanya, dan mau memeriksa kejadian-kejadian di mana NU pernah berhari raya terlebih dahulu daripada Muhammadiyah di tahun 1992-1994, maka kita akan memiliki beberapa pertanyaan.
  1. Benarkah NU lebaran duluan karena hilal sudah dua derajat ataukah ternyata masih di bawah 0 derajat?
  2. Benarkah Pemerintah-Muhammadiyah pakai hilal tinggi saat itu, ataukah kejadiannya, hilal sudah di atas 2 derajat, sehingga Pemerintah-Muhammadiyah bersamaan, mengingat Muhammadiyah saat itu sudah pakai wujudul hilal?
Perlu penulis garis bawahi di sini, artikel tersebut menyatakan bahwa NU menggunakan hisab 2 derajat saat itu sebagaimana kutipan: "Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah", karena artikel tersebut menyatakan bahwa Muhammadiyah dan Pemerintah saat itu menggunakan hisab tinggi, tanpa penjelasan yang jelas, maka penulis berasumsi bahwa penulis artikel tersebut menyatakan bahwa Muhammadiyah menggunakan sudut hisa lebih besar dari 2 derajat, entah 3, 4, atau 5 derajat atau mungkin lebih besar lagi. Padahal, saat itu, Muhammadiyah sudah menggunakan wujudul hilal.

Pertama, kita lihat fakta Idul Fitri 1992 [1]
-----
Ijtimak akhir Ramadhan tahun 1412 H terjadi hari Jum’at Paing, 3 April 1992 M., pukul 12:02:25 WIB. Ketika matahari terbenam di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, bulan masih di bawah ufuq dengan tinggi mar’i -1° 7’ 45”.

Pada saat itu Menteri Agama atas nama Pemerintah Indonesia melalui sidang isbat menetapakan 1 Syawal 1412 H., jatuh Ahad Wage, 5 April 1992 M., atas dasar istikmal dan menolak laporan rukyah dari daerah Jawa Timur.

Nahdlatul Ulama (NU) mengikhbarkan bahwa 1 Syawal 1412 H., jatuh hari Sabtu Pon, 4 April 1992 M. (mendahului ketetapan Pemerintah) atas dasar adanya laporan rukyah dari Jawa Timur dan Cakung, sedangkan Muhammadiyah sejalan dengan keputusan Pemerintah yaitu 1 Syawal 1412 H., jatuh hari Ahad Wage, 5 April 1992 M.


Kedua, kita lihat Fakta Idul Fitri 1993 [1]
-----
Ijtimak akhir Ramadhan tahun 1413 H., terjadi hari Selasa Legi, 23 Maret 1993 M., pukul 14:15:31 WIB. Ketika matahari terbenam di Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, bulan masih di bawah ufuq dengan tinggi mar’i -2° 16’ 52”.

Pada saat itu Menteri Agama atas nama Pemerintah Indonesia melalui sidang isbat menetapakan 1 Syawal 1413 H., jatuh Kamis Pon, 25 Maret 1993 M., atas dasar istikmal dan menolak laporan hasil rukyah hilal dari Jawa Timur dan Cakung.

Nahdlatul Ulama (NU) mengikhbarkan bahwa 1 Syawal 1413 H., jatuh hari Rabu Paing, 24 Maret 1993 M.(mendahului ketetapan Pemerintah) atas dasar adanya laporan rukyah dari Jawa Timur dan Cakung, sedangkan Muhammadiyah sejalan dengan keputusan Pemerintah yaitu 1 Syawal 1413 H., jatuh hari Kamis Pon, 25 Maret 1993 M. Pada waktu itu ada sebagian kaum muslimin Indonesia yang berhari raya hari Selasa Legi, 23 Maret 1993 (mendahului 2 hari dari ketetapan Pemerintah) karena mengikuti hari raya ’Idhul Fitri 1413 H., di Arab Saudi.


Kesimpulan


---


Dari kedua fakta tersebut terlihat dengan nyata bahwa saat itu NU berhari raya ketika sudur bulan masih di bawah ufuk. Sebenarnya tidak ada masalah, karena masih ada metode hisab yang selaras, yakni metode Qobla Ghurub. Namun, membuat artikel dengan sebuah fakta palsu, yang mengatakan bahwa Muhammadiyah menggunakan hisab tinggi dan NU menggunakan hisab 2 derajat saat terjadi perbedaan di tahun 1992-1994, itu adalah kebohongan yang luar biasa.

Rujukan:
  1. Slamet Hambali. 2012. Fatwa, Sidang Itsbat, dan Penyatuan Kalender Hijriyah.

Konsep Unifikatif Ditetapkan Sebagai Kalender Dunia Islam

Saya senang mendengar bahwa Konsep Unifikatif ditetapkan sebagai kalender dunia Islam, walaupun di waktu yang sama, saya kecewa karena penetapannya menggunakan konjungsi di GMT sebagai patokan. Mengapa bukan Mekah atau antipode Mekah sebagai patokan?