Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Friday, May 24, 2013

Zakat untuk Mendanai Kegiatan Politik?

Melihat pembelaan mereka yang mati-matian terhadap kelompoknya, akhirnya mereka mengeluarkan daftar asal dana mereka. Cukup kaget melihatnya, "zakat", ya dana zakat digunakan untuk kegiatan berpolitik mereka.

Sekiranya dana zakat digunakan untuk kegiatan atas nama fi sabilillah (yang diperluas), ada sebuah pertanyaan, bukankah zaman Rasulullah dan Khalifah Rasyidin tidak menggunakan dana zakat. Mereka memang dapat dari baitul mal, tapi kalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata uangnya berasal dari Ghanimah dan sejenisnya.

Jika mereka memberikan zakat tersebut hanya kepada orang-orang yang mendukung mereka, alangkah eloknya tentang cerita di bawah:
Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawiyah, orang-orang dekat Ali menyarankan agar ia mengambil uang dari baitul mal sebagai hadiah bagi orangorang yang membantunya. Mendengar ini, Ali sangat marah dan berkata, "Apakah kalian memerintahkan aku untuk mencari kemenangan melalui kezaliman?"
Ya ALLOH, jadikanlah kami tetap amanah.

Wednesday, May 22, 2013

Dana Talangan Haji: Mungkinkah Riba?

Melihat maraknya dana talangan haji, dimana mengembalikannya sependek pengetahuan saya harus lebih, saya selalu khawatir kalau itu merupakan sebuah riba.

Larangan berhutang untuk berhaji, bisa jadi merupakan salah satu larangan yang paling dilalaikan oleh jama'ah haji. Padahal haji dengan berhutang adalah salah satu sebab yang mengurangi kemabruran haji.

Di sisi lain, sistem antrian haji yang menyebabkan orang kaya bisa berhaji berulang-ulang sehingga menyebabkan orang yang kurang mampu kesusahan menembus antrian adalah sebuah permasalahan tersendiri yang menyebabkan maraknya dana talangan haji tersebut.

Kadang berpikir, mengapa tidak dibuat sistem dua antrian saja sih. Di mana, antrian pertama untuk yang sudah pernah berhaji, dan antrian kedua untuk yang belum pernah berhaji. Dengan begini, harapannya antrian haji tidak diambil penuh oleh yang bisa melakukan antrian berulang kali.

Wednesday, May 2, 2012

[Resensi] Koruptor Itu Kafir

Begitu melihat judul buku ini, saya langsung tertarik untuk membacanya. Melihat tim penulisnya, yang berasal dari Muhammadiyah dan NU, mungkin para calon pembacanya akan kaget. Kok keras ya? Sebenarnya, MUI sendiri tidak sepakat kalau koruptor itu dikatakan kafir. Tapi saya sendiri cenderung untuk setuju dengan pendapat buku ini, walaupun dengan sedikit perubahan redaksi, "Korupsi itu perbuatan kafir."

Ada pernyataan yang menurut saya perlu diklarifikasi tentang anggapan terlalu kerasnya pernyataan dalam buku ini, yakni pernyataan tentang yang berhak mengkafirkan hanya ALLOH. Menurut saya, pernyataan ini benar, namun dalam konteks argumen untuk melawan pernyataan di atas adalah kurang tepat.

Pertama, karena buku tersebut tidak mengkafirkan orang perorangan, namun cenderung menyatakan bahwa korupsi itu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang kehilangan rasa imannya, sebagaimana hadits, "Tidak beriman seorang pencuri ketika mencuri." Selain itu, fatwa tentang kafirnya seseorang atau sekelompok orang itu pada kenyataannya ada.

Kedua, meskipun perbuatan korupsi hanya dinyatakan sebagai perbuatan haram. Jika seseorang terus menerus melakukan perbuatan haram, tanpa ada keinginan bertobat, maka hal itu akan membawa pada kekafiran dirinya.

Ketiga, kafir tidak selalu bermakna murtad. Tapi kafir bisa juga berarti mengingkari sebuah perbuatan dengan berbagai alasan. Dan jangan lupa pula tentang kufur nikmat, yang artinya menutupi atau seolah-olah lupa terhadap suatu nikmat, itu juga kafir, namun belum bisa dikatakan murtad.


Referensi:
  1. MUI: Yang Menentukan Kafir Itu Allah, Bukan Orang. (19 Agustus 2010). Tempo.

Friday, December 16, 2011

Jilbab vs Akhlak


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

"Hatinya dulu di jilbab in, baru pakaiannya".
"Berjilbab tapi akhlaknya jelek."

Barangkali kita sering mendengar kedua kalimat di atas, maupun kalimat-kalimat sejenis, yang menghubungkan antara permasalahan jilbab dan akhlak. Permasalahannya adalah, benarkah seseorang yang berjilbab harus berakhlak baik.

Ada analogi yang baik mengenai permasalahan ini. Yakni, ketika kita mendapat ujian, dengan beberapa soal misalnya. Katakanlah 10 (sepuluh) soal. Maka, apabila kita tidak atau tidak mau atau tidak bisa mengerjakan salah satu soal, maka kita hanya akan mendapatkan nilai 9 dari 10 soal tersebut.

Hal ini bisa diperjelas dengan adanya hadits yang menyatakan seseorang itu masuk neraka, karena selalu menyakiti tetangganya, meskipun orang itu ibadahnya kuat. Pertanyaannya, apakah orang ini harus baik dulu, baru sholat? Tentu tidak, karena jika dibalik, gak pernah sholat karena ingkar, meskipun baik pada tetangga juga bisa masuk neraka.

Begitu pula hubungan antara jilbab dengan sikap baik. Keduanya sebenarnya termasuk dalam akhlak. Satunya akhlak berpakaian, satunya akhlak dalam bersikap. Tentu saja keduanya tidak berhubungan, mengerjakan yang satu bukan berarti dengan syarat sudah mengerjakan yang lain terlebih dahulu.

Seperti halnya ujian, anda bisa mengerjakan nomor mana saja yang lebih dahulu, yang menurut anda lebih mudah. Dan dalam ujian, setiap nomor yang anda kerjakan tetap mendapat point. Mungkin, satu-satunya perbedaan antara ujian dan konsepsi pelaksanaan perintah ALLOH dalam agama Islam, bahwa semua penilaian ujian tadi baru dinyatak sah sebagai suatu nilai ujian setelah anda meyakini kalimat LAA ILAAHA ILLA ALLOH

Permasalahannya sekarang, lebih sulit mana, menata sikap ataukah memakai jilbab? Dari sudut pandang saya pribadi, tentu saja tampaknya lebih mudah memakai jilbab. Jadi, mengapa tidak mulai dari sekarang? Kerjakan yang lebih mudah dahulu.

Wallahu 'alam.

Friday, December 2, 2011

Mengakali Hukum Agama?

"Punya dua suami", begitulah inti berita-berita yang muncul di Cianjur pada awal November kemarin. Dalam Islam, ada sebuah hukum di mana, jika seorang istri sudah ditalak tiga, maka tidak boleh kembali ke suami sebelumnya. (ref). Membaca berita ini, saya cukup kaget, ternyata ada juga ya cerita di hadits ini yang sesuai dengan cerita masa kini.

Saya melihat kedua suami-istri tersebut agak paham agama. Saya katakan agak. Kemudian berusaha mengakali hukum agama, jika benar cerita versi sang istri. Namun, apa daya, hati berkata lain. Suami baru dari sang istri, lebih mengikat hatinya.

Jika benar cerita versi sang istri, maka kedua suami istri itu bersalah. Walaupun, jika dipandang dari hukum positif yang mengenal surat nikah, hanya sang istri yang salah.

Wallahu'alam.

Saturday, January 8, 2011

Perbedaan Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra' Mi'raj adalah peristiwa yang dikalangan umat Islam mengalami beberapa perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat ini, menurut saya cukup penting. Perbedaan itu adalah, apakah Nabi Muhammad melakukan Isra' Mi'raj hanya dengan ruhnya (atau mimpi) ataukah dengan jasadnya?

Sebenarnya ini mudah sekali dijawab, namun kadang kurang diperhatikan. Kalau Isra' Mi'raj terjadi hanya ruhnya (atau mimpi), maka tentu saja tidak ada masyarakat Makkah yang mengingkari Nabi mengenai peristiwa tersebut, karena semua orang bisa bermimpi. Pengingkaran itu terjadi, pastilah karena Nabi Isra' Mi'raj dengan tubuhnya. Tentu saja ada yang menerima dengan penuh keimanan, ada yang mengingkari.

Friday, May 28, 2010

Akhlak Muslim Sebagai Netizen (Pengguna Internet)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Dalam berinternet, saya menemukan banyak sekali umat muslim, termasuk diri saya sendiri, yang kurang menghormati akhlak yang diperintahkan dalam al-Qur'an:

Tabayyun
Bagian mana dari tabayyun ini yang kurang dilakukan? Yakni kebiasaan langsung mem-forward sebuah informasi atau berita tanpa memeriksa kebenarannya. Meskipun berita itu terdengar baik. Jika berita atau informasi tersebut merupakan kabar buruk, maka bisa jadi kita menimpakan suatu fitnah kepada orang lain. Di sisi lain, kalau berita atau informasi tersebut merupakan kabar baik, bisa jadi kabar baik itu malah mempermalukan umat Islam jika tidak terjadi kebenaran dari berita tersebut.

Oleh sebab itu, hendaknya kita melakukan konfirmasi kepada yang membuat informasi atau orang yang disebut dalam informasi tersebut, meskipun yang memberi kabar orang yang kita percaya. Karena saya sering menjumpai, bahkan orang yang saya percaya itu ternyata hanya meneruskan suatu berita tanpa mengecek kebenarannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
[QS. al-Hujurat (49): 6]

Etis
Jaga etika dalam berkomunikasi. Jangan sembarang mengumbar keburukan orang, dan gunakan kata-kata yang sopan. Hal ini sering terjadi ketika kita berbeda pandangan dengan seseorang, alih-alih kita tetap berargumen dengan sebuah argumen, kita malah berargumen dengan sesuatu yang bukan pokok permasalahan yang diperbincangkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
[QS. al-Hujurat (49): 11]

Jaga etika komunikasi dengan lawan jenis.

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara furuuj mereka; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
[QS. an-Nuur (24): 30]

Filter
Hendaklah melakukan filter terhadap informasi yang ada, terutama bagi orang tua yang anaknya sudah menggunakan internet, karena banyaknya konten yang tidak cocok bagi anak bertebaran di dunia maya pada khususnya dan muslim pada umumnya. Beberapa provider menyediakan layanan internet versi berinternet dengan sehat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[QS. at-Tahriim (66): 6]

Tetap produktif
Jangan sampai terlalu asik ber-internet malah menjadi malas bekerja.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
[QS. al-Jumu'ah (62): 10]


Wallahu 'alam bish shawwab.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Sunday, March 28, 2010

Ciri Orang Cerdas


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Berikut ini ciri-ciri orang yang cerdas menurut al-Qur'an dan Hadits yang bisa saya himpun. Seseorang dikatakan cerdas bila memiliki semua unsur di bawah ini, bukan hanya salah satu saja dari unsur di bawah ini. Ciri-ciri orang cerdas di bawah ini ternyata sudah menyangkut 3 unsur kecerdasan, yakni kecerdasan intelejensia, emosional dan spiritual. Bahkan saya sendiri kaget melihat hasil yang saya daftar sendiri ini. Ide dari tulisan ini sendiri sebenarnya berasal dari tulisan John Taylor Gatto di Yes! Magazine berjudul Higher Education yang menyebutkan 12 ciri orang yang terdidik yang dalam salah satu pointnya menyebutkan bahwa ciri orang terdidik adalah menerima kematian. Tentu saja saya penasaran untuk mempelajari lebih lanjut di dalam al-Qur'an, karena menerima kematian adalah salah satu prinsip dalam Islam.

Semua unsur yang saya ambil ini mengambil dari kata kunci ulil-albab. Saya teringat dulu, ketika guru saya, Ustadz Sumardi Herlambang dari Surabaya, menerangkan kata ulil-albab. Beliau berkata, "Saya tidak bisa menerjemahkan kata ulul-albab, dan seharusnya kata ulil-albab itu jangan diterjemahkan, adapun maknanya silahkan dibaca ayat-ayat tersebut." Penterjemahan saya tentang kata ulul-albab menjadi orang yang cerdas, berdasarkan pernyataan guru saya di atas, tentu saja salah, karena banyak menghilangkan makna kata-kata ulil albab itu sendiri. Tetapi, ketika saya melihat makna yang dikandung ayat-ayat tersebut, yang mirip dengan konsep kecerdasan manusia saat ini, yang menunjukkan pada tiga kelompok kecerdasan, akhirnya saya menafsirkannya sebagai orang cerdas.

Dalam tulisan ini, pertama, saya akan menuliskan ringkasannya, kemudian baru saya menuliskannya secara lengkap beserta dalil yang saya gunakan.

  1. Selalu ingat mati dan mempersiapkan dirinya untuk bekal akhirat.
  2. Memikirkan jaminan kehidupan untuk dirinya dan juga orang lain serta generasi masa depan di dunia ini.
  3. Mempersiapkan bekal atau memikirkan kehidupannya di dunia. Serta memanfaatkan semua potensi yang saat ini dimilikinya untuk menyiapkan kemungkinan buruk yang mungkin menimpanya di masa depan.
  4. Mengamati dan menganalisa potensi alam serta memaksimalkannya untuk kepentingan diri sendiri pada khususnya dan manusia pada umumnya.
  5. Lebih memilih kebaikan daripada keburukan meskipun keburukan itu menarik hati.
  6. Mau belajar dari kisah-kisah orang terdahulu. Baik pelajaran yang membawa kebaikan maupun pelajaran yang membawa keburukan.
  7. Mau bersabar dan yakin bahwa setiap permasalahan pasti ada solusinya.
  8. Siap dalam menghadapi kematian, karena tahu, tidak ada yang abadi di dunia ini.
  9. Hati-hati dalam bertindak, karena dia yakin bahwa setiap tindakannya dapat berakibat buruk juga baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.
  10. Mampu mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang ada.
  11. Tidak mencari-cari permasalahan.
  12. Memenuhi janji
  13. Menjalin silaturrahim, menjalin hubungan dengan orang lain.
  14. Memberikan manfaat bagi orang lain, serta menolak kejahatan dengan cara yang baik.
  15. Memilih jalannya sendiri yang menurutnya paling baik tanpa pengaruh orang lain.


  1. Selalu ingat mati dan mempersiapkan dirinya untuk bekal akhirat.

    الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

    Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.
    [HR. at-Tirmidzi]


    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: اَتَيْتُ النَّبِيَّ ص عَاشِرَ عَشْرَةٍ فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ اْلاَنْصَارِ فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، مَنْ اَكْيَسُ النَّاسِ وَ اَحْزَمُ النَّاسِ؟ قَالَ: اَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ، وَ اَكْثَرُهُمْ اِسْتِعْدَادًا لِلْمَوْتِ، اُولئِكَ اْلاَكْيَاسُ ذَهَبُوْا بِشَرَفِ الدُّنْيَا وَ كَرَامَةِ اْلآخِرَةِ. ابن ابى الدنيا فى كتاب الموت و التطبرانى فى الصغير باسناد حسن، و البيهقى فى الزهد، و لفظه: اَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ ص: أَيُّ اْلمُؤْمِنِيْنَ اَفْضَلُ؟ قَالَ: اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. قَالَ: فَاَيُّ اْلمُؤْمِنِيْن اَكْيَسُ؟ قَالَ: اَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَ اَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اِسْتِعْدَادًا، اُولئِكَ اْلاَكْيَاسُ

    Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata : Saya datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling cerdas dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemulyaan dunia dan kemulyaan akhirat”.
    [HR. Ibnu Abid-Dunya di dalam kitabul-Maut. Thabrani di dalam Ash-Shaghir]


    Sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Siapa diantara orang-orang mukmin itu yang lebih utama ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling baik akhlaqnya diantara mereka”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapakah diantara orang-orang mukmin yang paling cerdas/cerdik ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling banyak ingat mati diantara mereka, dan orang yang paling baik persiapannya untuk kehidupan selanjutnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas”.
    [HR. Baihaqi di dalam kitabuz-Zuhud]
  2. Memikirkan jaminan kehidupan untuk dirinya dan juga orang lain serta generasi masa depan di dunia ini. Inti ayat berikut adalah kewajiban memberikan jaminan hidup bagi diri sendiri, yang tentunya juga bagi orang lain. Jaminan hidup bagi orang lain juga berarti, semisal di dalamnya menjamin dari kerusakan alam. Beberapa hari lalu misalnya, saya mendengar berita tanah longsor dan jembatan putus yang ternyata diakibatkan oleh penambang liar, maka itu berarti penambang liar tersebut tidak memberikan jaminan hidup bagi orang lain.

    وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.
    [QS al-Baqarah (2): 179]
  3. Mempersiapkan bekal atau memikirkan kehidupannya di dunia. Serta memanfaatkan semua potensi yang saat ini dimilikinya untuk menyiapkan kemungkinan buruk yang mungkin menimpanya di masa depan.

    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

    (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
    [QS al-Baqarah (2): 197]


    اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

    Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.
    [HR. Al-Hakim]
  4. Mengamati dan menganalisa potensi alam serta memaksimalkannya untuk kepentingan diri sendiri pada khususnya dan manusia pada umumnya. Disinilah muncul proses kreatif, serta pembelajaran terhadap hukum-hukum alam. Saya sering menyebut ayat ini sebagai ayat kecerdasan intelejensial.

    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
    الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
    [QS Ali Imran (3): 190-191]
  5. Lebih memilih kebaikan daripada keburukan meskipun keburukan itu menarik hati.

    قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan".
    [QS al-Maidah (5): 100]
  6. Mau belajar dari kisah-kisah orang terdahulu. Baik pelajaran yang membawa kebaikan maupun pelajaran yang membawa keburukan.

    لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

    Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
    [QS Yusuf (12): 111]
  7. Mau bersabar dan yakin bahwa setiap permasalahan pasti ada solusinya.

    وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ
    ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
    وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
    وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِّعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

    Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".
    (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".
    Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.
    Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).
    [QS Shaad (38): 41-44]
  8. Siap dalam menghadapi kematian, karena tahu, tidak ada yang abadi di dunia ini.

    أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

    Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
    [QS az-Zumar (39): 21]
  9. Hati-hati dalam bertindak, karena dia yakin bahwa setiap tindakannya dapat berakibat buruk juga baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.

    وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُّكْرًا
    فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا
    أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا

    Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.
    Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar.
    Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,
    [QS at-Talaq (65): 8-10]


    وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
    [QS al-Anfaal (8): 25]
  10. Mampu mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang ada.

    يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ

    Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
    [QS al-Baqarah (2): 269]
  11. Tidak mencari-cari permasalahan.

    هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ

    Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
    [QS Ali Imran (3): 7]
  12. Memenuhi janji

    أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ
    الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ

    Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,
    (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,
    [QS ar-Ra'du (13): 19-20]
  13. Menjalin silaturrahim, menjalin hubungan dengan orang lain. Hal ini sangat bermanfaat, sebagaimana kisah Rasulullah yang dilindungi oleh sukunya ketika beliau diboikot, bahkan akhirnya dilindungi oleh anggota-anggota suku-suku yang lain. Adapun penafsiran kata "menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan" sebagai silaturrahim, bisa dibaca di kitab-kitab tafsir al-Qur'an.

    وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

    dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
    [QS ar-Ra'du (13): 21]
  14. Memberikan manfaat bagi orang lain, serta menolak kejahatan dengan cara yang baik.

    وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

    Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
    [QS ar-Ra'du (13): 22]
  15. Memilih jalannya sendiri yang menurutnya paling baik tanpa pengaruh orang lain. Tanpa pengaruh orang tua, kaum kerabat, pemimpin yang dianggap berpengaruh, maupun pengaruh orang-orang kaya.

    الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ

    yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.
    [QS az-Zumar (39): 18]


    وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".
    [QS al-Baqarah (2): 170]
    [Ayat senada juga ada pada QS al-Maidah (5): 104; Luqman (31): 21;az-Zukhruf (43): 22; ]


    فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

    Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".
    [QS Huud (11): 27]


Ada yang bisa menambahkan?


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Saturday, March 27, 2010

Selamat Berpartisipasi Dalam Earth Hours


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Sebelum tidur, Rasulullah telah memerintahkan kita untuk mematikan api dan lampu.

أَطْـفِئُوا اْلمَصَابِيْحَ بِالَّليْلِ إِذَا رَقَـدْتُمْ وَأَغْـلِقُوْا اْلأَبْوَابَ

Padamkanlah lampu-lampu pada waktu malam apabila kalian hendak akan tidur dan tutuplah pintu-pintu…
[HR. Bukhari No. 6296 dan Muslim No. 2012]

Alasan dipadamkannya api dan dimatikannya lampu pada waktu itu adalah agar tidak terjadi kebakaran.

فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ (اْلفَأْرَةُ) رُبَّمَا جَرَّتْ الْفَتِيْلَةَ فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ اْلبَيْتَ

Karena sesungguhnya hewan kecil yang nakal (tikus) mungkin menarik sumbu lampu hingga membinasakan penghuni rumah.
[Fathul Baari 11/89]

Latar belakang hadits itu sendiri terjadi ketika suatu malam sebuah rumah di Madinah terbakar, lalu pada saat terjadi peristiwa tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ هذِهِ النَّارُ عَدُوٌّ لَكُمْ فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوْهَا عَنْكُمْ

Sesungguhnya api ini adalah musuh bagimu, maka apabila kalian tidur maka matikanlah dia darimu.
[HR. Muslim No.2012]

Saat ini, mematikan lampu di saat kita tidur, kembali menjadi sangat penting, di mana pemanasan global terjadi. Karena saat ini pembangkit listrik, kebanyakan menggunakan bahan bakar fosil. Tentu saja tidak semua lampu perlu dimatikan, seperti lampu teras yang digunakan untuk jaminan keamanan supaya tidak ada pencuri yang masuk. Tapi setidaknya, matikan dispenser, matikan TV (jangan di sleep mode) dan matikan komputer serta semua peralatan lain yang tidak anda gunakan saat tidur. (red: Tentu saja kalau anda mematikan kulkas, anda tahu sendiri resikonya kan? Saya sendiri tidak punya kulkas.)

Selamat berpartisipasi dalam Earth Hour 2010 dan Dark Skies Awareness 2010.

Friday, March 5, 2010

Fatwa Haram Rokok Muhammadiyah



Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Ada dua masalah yang ramai di Muhammadiyah selama 2 bulan ini, pertama ramai tentang Fatwa haram rokok Muhammadiyah. Bagi aktivis Muhammadiyah, masalah ini sudah ramai sejak 2 bulan lalu sekitar awal Januari, yang memang fatwa ini mulai dibahas sejak awal Januari yang lalu, dan baru disahkan pada 9 Maret 2010. Kedua, ingin kembalinya Pak Amien Rais ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

InsyaALLOH, saya termasuk yang setuju fatwa ini, karena dalam klausul fatwa tersebut juga tercantum, Muhammadiyah harus berperan aktif membimbing petani tembakau kepada pertanian yang lain.

Ada dua alasan dari warga Muhammadiyah yang menolak fatwa ini yang ingin saya komentari.

Alasan pertama, ini masalah Furu'iyyah, mengapa Muhammadiyah mengurusi masalah seperti ini. Menurut pendapat saya, masalah Furu'iyyah ini sekarang menjadi semakin penting. Penting karena, pada kenyataannya, petani tembakau dirugikan, hal ini bisa dipahami kalau kita mau membaca fatwa haram rokok Muhammadiyah secara lengkap, bukan hanya sepotong-sepotong. Selain itu, saya pernah berdiskusi dengan Pak Kuswiyanto, seorang anggota DPRD Jawa Timur, bahwa subsidi kesehatan akibat penyakit yang ditimbulkan akibat merokok, jauh lebih besar daripada pajak yang diterima dari cukai rokok.

Alasan kedua, bagaimana dengan nasib petani tembakau? Pada kenyataannya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, petani tembakau ternyata lebih banyak dirugikan daripada diuntungkan, sekali lagi, baca fatwa haram rokok Muhammadiyah secara lengkap, jangan hanya diambil sepotong. Selain itu, pada fatwa tersebut disebutkan bahwa, pada kenyataannya petani-petani tembakau banyak yang ingin pindah ke pertanian yang lain tapi tidak punya ilmunya, baik ilmu bertaninya maupun cara menjualnya, oleh sebab itu dalam fatwa tersebut disebutkan bahwa Muhammadiyah harus berperan aktif membantu mereka.

Tuesday, January 26, 2010

Meneladani Ibrahim: Mencari Tuhan


Pencarian Tuhan termasuk proses yang sangat tua usianya, setua usia manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dalam peradaban manapun dan di manapun, proses ini senantiasa termasuk di dalamnya. Kecenderungan untuk mendapatkan rasa aman dan mengalihkan diri dari rasa takut telah mendorong mereka untuk mengaitkan dirinya dengan sesuatu yang dianggap lebih tinggi yang kemudian diidentifikasikan sebagai Tuhan. Pada masyarakat primitif, sesuatu itu berasal dari kekuatan-kekuatan alam yang menampilkan diri dalam benda-benda dan sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan. Lahirlah kepercayaan terhadap benda-benda dan dewa-dewi yang menjadi personifikasi dari kekuatan-kekuatan tersebut.

Saturday, January 16, 2010

Wanita, Sang Penghuni Neraka Terbanyak


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Seringkali, para pria muslim berbangga diri terhadap para wanita muslim, dengan sebuah pernyataan bahwa kaum wanita adalah penghuni paling banyak di neraka. Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, karena sesuai dengan hadits:


Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy berkata,’Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian. Mereka bertanya,’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah saw?’ Beliau saw menjawab,’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau saw berkata lagi,’Bukankah apabila dia mendapatkan haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau saw berkata,’itulah kekurangan agama.’ (HR. Bukhori)

Yang menjadikannya salah adalah bahwa dari hadits diatas, diopinikan seolah-olah, kaum pria adalah penghuni paling banyak di surga. Tentu saja pendapat ini kurang tepat, karena ada hadits yang juga menyatakan bahwa penghuni paling banyak di surga adalah wanita, sesuai dengan hadits berikut:

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dia berkata, "Ada kalanya kalian berbangga atau waspada: Manakah yang lebih banyak di surga, laki-laki atau perempuan?" Abu Hurairah menjawab, "Bukankah Abu Qasim (Rasulullah) SAW bersabda, "Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga berbentuk bulan malam purnama, disusul rombongan selanjutnya berupa bintang kejora yang paling terang di langit. Masing-masing orang di antara mereka menggandeng dua orang istri. Tidak ada yang membujang di dalam surga." (HR. Muslim)

Karena jangan lupa pula, wanita pulalah yang paling banyak jumlah penghuninya di dunia ini, salah satunya menurut hadits berikut:

"Di antara tanda-tanda hari kiamat itu ialah kian langkanya ilmu pengetahuan, kian umumnya kebodohan, kian terang terangannya dilakukan perbuatan zina, kian meningkatnya jumlah wanita, sebaliknya, kian menyusutnya jumlah kaum pria, sehingga untuk lima puluh orang wanita hanya ditanggung oleh satu orang laki-laki." (HR. Bukhari)

Jadi, kaum pria, jangan sombong.

Wallohu a'lam


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Posting asli ada di Facebook pada 12 Januari 2010

Friday, January 25, 2008

Memilih Berdasar Aqidah

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Perlu dicatat, hal di bawah ini belum pernah terjadi pada saya.

Studi kasus pertama:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."
Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"
Jawabnya, "Kan mas belum jadi suamiku."

Studi kasus kedua:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Kan jilbab itu gak wajib"
...

Studi kasus ketiga:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."
Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"
Jawabnya, "Karena aku masih belum bisa lepas dari ortuku."

Dalam studi kasus di atas, ketiga orang itu tidak mau berjilbab. Namun, ketika aku bertemu studi kasus yang pertama, jelas orang itu langsung aku coret dari daftarku. (sombong banget) Lho, kenapa? Karena dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, bukan karena mempunyai pemahaman yang berbeda. Tapi dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, dengan syarat orang lain. Hal ini sangat berhubungan dengan aqidah. Ketika sebuah ibadah sudah mampu dilaksanakan tanpa ada yang menghalang-halangi, yang berarti saat itu, dia mengalami kondisi yang paling mudah untuk merubah diri, namun dia tidak mau berubah, perlu dipertanyakan niatnya. Atas dasar apa dia ingin berubah? Sesungguhnya amal itu berdasarkan niatnya.

Bagaimana dengan studi kasus kedua dan ketiga. Diskusi-diskusi selanjutnya akan sangat menentukan. Yang jelas, aqidah harus diutamakan.

Friday, September 7, 2007

Dari Imam al-Bukhari Dalam Adabul Mufrad No. 644

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Hadits gak jelas asal-usulnya:

Do'a Malaikat jibril Menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri; * Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.


Ini redaksi yang benar:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian
berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata
‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad
celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat
kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril
berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari
bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka
aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata
lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah
seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke
surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.
[Adabul Mufrad No. 644]

Monday, April 2, 2007

Masalah Peminangan (Reposting)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Artikel berikut saya posting ulang dari blog saya yang lama, karena urgensi dengan cerita-cerita yang tercampur-aduk tentang saya akhir-akhir ini, agar mereka yang menyebarkan cerita tersebut berhati-hati.


Jangan Seseorang Meminang Pinangan Saudaranya

Ibnu Umar r.a. menuturkan:
"Nabi s.a.w. melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang mengizinkannya kepadanya."
(HR. Bukhari Bab Nikah No. 5141, Muslim Bab Nikah No. 1412)

Dari "Abdurrahman bin Syamasah bahwa dia mendengar 'Uqbah bin 'Amir berdiri di atas mimbar seraya berucap:
"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya. Oleh karena itu tidak halal bagi seorang mukmin membeli atas pembelian saudaranya dan tidak pula meminang atas pinangan saudaranya hingga dia meninggalkannya."
(HR. Bukhari Bab Nikah No. 5142)

Juga renungkan sikap Abu Bakar r.a. ketika Umar bin Khattab menawarkan putrinya Hafsah kepadanya yang beliau diamkan saja tanpa menanggapinya. Sesudah sah dipinang Rasulullah s.a.w. barulah beliau berkata: "Sebenarnya tawaranmu yang lalu tidak aku tanggapi karena aku sudah tahu bahwa Rasulullah s.a.w. sudah pernah menyebutnya. Namun aku tidak mungkin membuka rahasia Rasulullah s.a.w. Tapi kalau beliau meninggalkannya, tentu saya terima tawaranmu itu."


Rahasiakanlah Peminangan

“Kumandangkan pernikahan … dan rahasiakan peminangan”
(HR. Ummu Salamah r.a.)*

Juga renungkan sikap Abu Bakar r.a. ketika Umar bin Khattab menawarkan putrinya Hafsah kepadanya yang beliau diamkan saja tanpa menanggapinya. Sesudah sah dipinang Rasulullah s.a.w. barulah beliau berkata: "Sebenarnya tawaranmu yang lalu tidak aku tanggapi karena aku sudah tahu bahwa Rasulullah s.a.w. sudah pernah menyebutnya. Namun aku tidak mungkin membuka rahasia Rasulullah s.a.w. Tapi kalau beliau meninggalkannya, tentu saya terima tawaranmu itu."

Adapun definisi peminangan tidak selalu berarti ta’aruf atau bahkan sudah dalam proses ta’aruf. Cukuplah ketika seseorang mengatakan bahwa dia berminat untuk menikahi orang lain, yang mungkin dikarenakan kita dekat dengannya sehingga orang tersebut cerita dengan kita, maka kita tetap harus merahasiakannya.

Di sinilah Islam memberikan keseimbangan antara perintah untuk tidak meminang orang yang sedang dipinang oleh saudaranya sesama muslim dengan cara memerintahkan orang yang tahu masalah peminangan itu untuk merahasiakannya. Sehingga wanita tersebut masih bisa dipinang oleh orang lain apabila yang meminang tadi terlalu lama mengambil keputusan.

Selain itu, tindakan dalam merahasiakan peminangan itu untuk memelihara kehormatan, nama baik dan perasaan hati si wanita apabila ternyata peminangan yang sudah ramai dibicarakan orang itu ternyata dibatalkan.

Wallahu ‘alam.

Catatan:
* Hadits ini belum saya ketahui keshahihannya, hadits ini saya ikut sertakan hanya karena hadits ini menguatkan cerita dalam paragraf selanjutnya yang terdapat dalam Sirah Nabawiyah.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi


(UPDATE)
Permasalahan yang berhubungan:
http://kholimi-id.blogspot.com/2007/04/april-mob-ya-mr-crab.html