Showing posts with label Networking and Communication. Show all posts
Showing posts with label Networking and Communication. Show all posts

Wednesday, October 22, 2014

Bingung Konsep Big Data?

Jujur saja, selama ini saya bingung dengan konsep Big Data. Semua konsep yang saya baca tentang Big Data seolah-olah hanyalah perpaduan konsep yang terdapat pada "data mining + data warehouse + distributed system". Sebagai sebuah penelitian, bagi saya, tidak ada yang baru dalam Big Data. Akhirnya ada juga seorang pakar, Michael Jordan, yang berbicara di IEEE Spectrum tentang Big Data ini. "We’re getting everything wrong", begitulah yang dikatakan Michael Jordan. Bagi Michael Jordan, konsep Big Data seolah mengembalikan penelitian mundur ke tahun 60-an, mengulang penelitian yang sebenarnya sudah diteliti.

Wednesday, March 14, 2012

BTS di Tengah Atau di Sudut Cell?

Kedua gambar berikut ini saya ambil dari materi Cellular Network di Wikipedia. Pertanyaannya, manakah yang benar? Tower BTS di tengah, ataukah berada di sudut cell. Buku-buku tentang jaringan nirkabel ternyata menggambarkan bahwa tower BTS tersebut berada di tengah cell.
Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa tower BTS berada di tengah BTS, gambar-gambar yang ditampilkan adalah gambar-gambar yang memperlihatkan bahwa Tower BTS tersebut berada di tengah cell. Hal ini menyebabkan pembacanya sering missleading mengira bahwa cell hexagonal tersebut terbentuk dari gelombang yang dipancarkan dari titik tengah BTS, berbentuk lingkaran, kemudian membentuk hexagonal dengan garis lurus tersebut sebagai posisi handoff.

Padahal dengan teori tersebut, jika BTS tidak benar-benar diletakkan secara tepat, gambaran hexagonal tersebut tidak mungkin terjadi.

Gambar 1: BTS di tengah cell

Berbeda dengan gambar 2 berikut. Dengan gambaran 1 BTS memancarkan 3 sinyal ke 3 arah yang berbeda, hal ini yang akan menyebabkan sinyal berbentuk hexagonal, walau posisi antar BTS nantinya kurang tegak lurus. Hal ini karena, handoff sendiri terjadi antar pemancar dalam satu BTS yang sama

Gambar 2: BTS di sudut cell
Kesalahan kedua buku-buku jaringan nirkabel tentang penggambaran model cell adalah hanya menggambarkan adanya model cell hexagonal, padahal ada juga model cell diamond (kotak). Tentunya, model cell diamond ini akan lebih susah lagi digambarkan, kalau BTS tersebut memancarkan hanya satu gelombang dari tengah BTS.

Thursday, November 10, 2011

Karakteristik Fiber Optik

Berikut beberapa karakteristik fiber Optic yang perlu diperhatikan, InsyaALLOH di Wikipedia belum ada:
  • Kecepatan komunikasi melalui fiber bergantung pada indeks refraktif bahan fiber yang menyalurkan cahaya. Semakin rendah indeks refraktif, semakin cepat cahaya lewat.
  • Cahaya bergerak melalui medium dengan memanfaatkan refleksi akibat perbedaan indeks refraksi dengan menghitung sudut kritis yang dihasilkan oleh perbedaan medium tersebut.
  • Semakin besar perbedaan indeks refraksi, semakin kecil sudut kritis. Sudut kritis yang semakin kecil menyebabkan pemasangan kabel lebih mudah, namun semakin besar sudut kritis, distorsi yang menyebabkan melemahnya yang juga akan semakin besar. Selain itu, mengarahkan cahaya dengan sudut yang terlalu kecil hanya akan menyebabkan kecepatan propagasi semakin lambat. 
  • Spektrum cahaya yang dipakai adalah spektrum cahaya tampak. Meskipun banyak sinyal dilewatkan ke saluran yang sama, hal ini tidak akan menyebabkan sinyal bertabrakan. Analoginya seperti cahaya tampak yang tercampur, ketika melewati sebuah prisma, warnanya masih bisa dipisahkan.
  • Pada kenyataannya, cahaya hanya menggunakan 1 lapisan untuk propagasi. Namun kabel fiber optic mempunyai 3 lapisan bening. Lapisan kedua dibuat untuk mencegah adanya kotoran di lapisan terluar yang menyebabkan perubahan indeks refraksi di luar lapisan pertama sehingga menyebabkan melemahnya sinyal. Sedang lapisan ketiga dibuat untuk mencegah pecahnya lapisan pertama dan kedua.

RUJUKAN:
  1. Crisp, John. Introduction to Fiber Optics. Newnes. 2001.

Perbedaan Hub, Switch, Bridge, dan Router

Hub adalah alat yang menghubungkan node ke backbone jaringan. Node terhubung ke jaringan dalam bentuk topologi star, namun pada kenyatannya Hub menjadikan sebuah node seolah-olah (secara virtual) mempunyai beberapa NIC. Hub bekerja di layer 1. Hub bekerja dengan cara mengirimkan data ke semua port yang dimilikinya, karena Hub tidak memiliki tabel yang memperlihatkan hubungan antara alamat jaringan dengan port yang terkoneksi. Kelemahan hub adalah seringnya terjadi collision data dikarenakan setiap data yang diterima Hub dikirimkan ke semua port Hub. Hub bisa juga dianggap sebagai Repeater yang mempunyai banyak port.

Switch sama seperti hub, namun lebih cerdas. Switch memliki tabel yang menghubungkan antara alamat MAC sebuah NIC dengan port Switch yang dipakai. Hal ini menyebabkan Switch hanya menyalurkan data ke port Switch yang sesuai, sehingga mengurangi collision data. Switch bekerja di Layer 2 agar bisa mengetahui MAC Address NIC dari node.

Bridge adalah perangkat yang digunakan untuk menghubungkan dua segmen jaringan yang berbeda. Dua segmen yang berbeda ini bisa berarti alamat jaringan yang berbeda, atau jenis physical layer yang berbeda. Maksud dari jenis Physical layer yang berbeda adalah menghubungkan antara jaringan yang menggunakan kabel RJ-45 menuju jaringan yang menggunakan kabel coaxial, atau menghubungkan jaringan wireless dengan jaringan wireline. Untuk permasalahan perbedaan segmen pada alamat jaringan namun Physical layer-nya sama, maka sebenarnya Switch sendiri bisa dipakai, dan dalam hal ini bisa dikatakan Bridge adalah Switch dengan 2 port.

Router sama seperti Switch, namun bekerja di Layer 3. berbeda dengan Switch yang hanya memiliki tabel hubungan antara alamat MAC sebuah NIC dari node dengan port yang terkoneksi ke node tersebut, maka Router juga memiliki tabel hubungan antara alamat IP sebuah node dengan port yang terkoneksi ke node tersebut. Router sendiri pada dasarnya adalah sebuah komputer dikarenakan kompleksitas tabel yang dibuat.


Rujukan
  1. Perlman, R. Interconnection Second Edition: Bridges, Routers, Switches and Internetworking Protocols. 2010. 
  2. Hallberg, BA. Networking: A beginner’s Guide. McGraw Hill. 2010. 
  3. Cisco. How Lan Switch Work. < www.cisco.com/warp/public/473/lan-switch-cisco.pdf >

Sunday, November 6, 2011

Datagram Congestion Control Protocol

Datagram Congestion Control Protocol adalah sebuah transport protocol yang menyediakan koneksi unicast bidirectional dari datagram yang unriable dengan congestion controlled. DCCP cocok untuk aplikasi yang mengirim data dengan jumlah besar.

Datagram Congestion Control Protocol didesain untuk memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • Berdasar pada aliran datagram yang unreliable. Mirip dengan UDP.
  • Handshake yang reliable untuk melakukan setup (melakukan koneksi) dan teardown (memutus koneksi) pada koneksi. (Berbeda dengan UDP, lebih mirip TCP)
  • Adanya kebebasan untuk melakukan pilihan cara penanganan terhadap permasalahan koneksi yang ada, semisal pemilihan mekanisme kontrol yang cocok apabila terjadi congestion.
  • Mekanisme yang dibuat haruslah memungkinkan server untuk mencegah holding (memegang dan atau menahan) state apabila terjadi unacknowledged connection dan apabila koneksi sudah selesai dilakukan.
  • Congestion Control mencakup dan memasukkan Explicit Congestion Notification (ECN) [RFC3168] dan ECN Nonce [RFC3540].
  • Mekanisme acknowledgment bisa memberitahukan informasi packet loss dan informasi ECN.
  • Adanya mekanisme tambahan yang memungkinkan pemberitahuan pada aplikasi pengirim, paket data mana yang sampa pada penerima, dan apakah paket mempunyai penanda ECN ataukah tidak, corrupt ataukah tidak, ataukah di-drop di buffer penerima ataukah tidak.
  • Adanya deteksi Path Maximum Transmission Unit (PMTU) [RFC1191]
  • Adanya pilihan beberapa mekanisme congestion control. Untuk RFC ini, ada dua yang akan dispesifikasikan di RFC yang lain, yakni TCP like Congestion Control [RFC4341] dan TCP friendly Rate Control (TFRC) [RFC4342] .

Datagram Congestion Control Protocol didesain untuk menangani aplikasi semacam media streaming, dimana pada prosesnya dilakukan pengiriman data yang besar, dan tidak boleh ada delay yang terlalu besar, namun data diperbolehkan untuk sesekali hilang.

Datagram Congestion Control Protocol juga didesain agar aplikasi-aplikasi streaming yang mempunyai data kecil yang biasanya didesain mengunakan UDP, semacam chatting misalnya, tidak beralih desain untuk menggunakan DCCP.

Rujukan:

Saturday, June 11, 2011

Chat FB di Pidgin Tanpa Plugin

Bagi yang terbiasa dengan Pidgin dan FB, mungkin sudah familiar dengan penggunaan Plugin FB untuk Pidgin. Namun, sebenarnya ada cara lain untuk tetap bisa menggunakan chat di FB dengan Pidgin, yakni dengan menggunakan port XMPP. Sama seperti Google, dan kebanyakan aplikasi chat OpenSource, FB juga menggunakan port XMPP agar chat yang dimilikinya bisa digunakan oleh developer ketiga.

Berikut cara konfigurasi chat di FB dengan menggunakan Pidgin:
Pertama, masuk ke menu Accounts --> Manage Account. Setelah itu tekan tombol Add. Setelah itu, pada bagian protocol, pilih protokol XMPP.

Untuk username, masukkan USERNAME@chat.facebook.com, bukan login ketika masuk FB. USERNAME ini bisa dilihat ketika masuk ke profile apabila mengakses site FB. http://www.facebook.com/USERNAME. Bagaimana kalau ternyata yang muncul seperti ini http://www.facebook.com/?profile=NOMOR. Hal ini terjadi karena username-nya memang belum diisi. Karena di FB memang boleh diisi boleh tidak. Kalau yang muncul seperti di atas, isi dulu username pada konfigurasi profile, atau gunakan username u_NOMOR@chat.facebook.com.

Setelah username dan password sudah dimasukkan, masuk ke tab Advanced. Masukkan Port 5222, dan Proxy proxy.jabber.org. Setelah itu, simpan konfigurasi dan chat FB bisa dipakai.