Beberapa tugas ku dapatkan
Dari seorang profesor yang terkenal
Berdasar sebuah buku setebal bantal
Dengan bahasa dari luar
Ku baca ku tak paham
Ku cari di internet ku temukan solution manual
Ku baca ku bertambah galau
Copas saja daripada mengaku gak tahu
Hari ini ku terkejut
Dalam kuliah etika ku duduk
Bukankah ku tak ambil?
Tanyaku dalam hati yang labil
Dalam senyumnya beliau mengkritik
Tindakanku yang hipokrit
Malu wajah ini tertunduk lemah
Merasa berdosa berkhianat terhadap bangsa
Darimana ku dapat beasiswa
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Monday, October 24, 2011
Friday, January 21, 2011
Bekerja (Seolah) Di Luar Bidang - Sebuah Jawaban Untuk 3 Idiot
Ada sebuah pernyataan menarik dalam film 3 idiot. "Jika ingin mengambil MBA, mengapa harus Insinyur dulu." Salahkah hal itu? Saya jawab hal itu bukan hal yang mutlak salah.
Ada sebuah cerita menarik. Seorang lulusan fisika, diterima kerja di bank. Tahu mengapa? Karena tidak ada lulusan ekonomi (atau sedikit) yang sanggup menganalisa suatu permasalahan ekonomi dengan menggunakan sebuah rumus, yang ternyata rumus itu aslinya dari bidang fisika. Nah lho. Salah jurusan?
Film jangan dipercaya 100%. Itu saja pendapat saya. Setelah lulus dari jurusan anda, terserah anda. Mau ambil jurusan ekonomi, jurusan sejarah, atau apa saja, terserah kita. Jurusan Informatika kemudian lari ke jurusan sejarah. Salahkah? Gak salah. Apalagi anda tipe orang yang suka mata kuliah keamanan terutama enkripsi. Anda akan menemukan, mata kuliah bidang ini sangat bermanfaat untuk menerjemahkan bahasa yang telah musnah.
Ingin menjadi wirusahawan? Lulusan Informatika bisa belajar dari kuliah E-Bisnis, MPPL, Data Mining. Terutama pola pikir dari ketiga mata kuliah tadi. Suka astronomi, coba pelajari masalah-masalah di bidang multimedia, terutama Digital Signal Processing, atau Digital Image Processing, penemuan planet akhir-akhir ini melibatkan bidang tersebut karena keterbatasan lensa. Selama anda senang dengan bidang yang anda geluti, hal itu InsyaALLOH baik.
Ada sebuah cerita menarik. Seorang lulusan fisika, diterima kerja di bank. Tahu mengapa? Karena tidak ada lulusan ekonomi (atau sedikit) yang sanggup menganalisa suatu permasalahan ekonomi dengan menggunakan sebuah rumus, yang ternyata rumus itu aslinya dari bidang fisika. Nah lho. Salah jurusan?
Film jangan dipercaya 100%. Itu saja pendapat saya. Setelah lulus dari jurusan anda, terserah anda. Mau ambil jurusan ekonomi, jurusan sejarah, atau apa saja, terserah kita. Jurusan Informatika kemudian lari ke jurusan sejarah. Salahkah? Gak salah. Apalagi anda tipe orang yang suka mata kuliah keamanan terutama enkripsi. Anda akan menemukan, mata kuliah bidang ini sangat bermanfaat untuk menerjemahkan bahasa yang telah musnah.
Ingin menjadi wirusahawan? Lulusan Informatika bisa belajar dari kuliah E-Bisnis, MPPL, Data Mining. Terutama pola pikir dari ketiga mata kuliah tadi. Suka astronomi, coba pelajari masalah-masalah di bidang multimedia, terutama Digital Signal Processing, atau Digital Image Processing, penemuan planet akhir-akhir ini melibatkan bidang tersebut karena keterbatasan lensa. Selama anda senang dengan bidang yang anda geluti, hal itu InsyaALLOH baik.
Thursday, January 20, 2011
Transparansi Nilai
Soal nilai, saya termasuk yang lebih suka transparansi nilai. Namun, saya tidak ingin nilai seorang anak didik saya dilihat oleh anak didik saya yang lain. Namun, sarana dan prasarana untuk itu belum siap. Dalam kondisi seperti ini, mana sih yang lebih baik? Transparansi nilai atau tertutup?
Sunday, January 9, 2011
Gaya Belajar Pada Mahasiswa Informatika
Pernah baca buku Quantum Learning? Dalam buku tersebut disebutkan ada 3 (tiga) model cara belajar, yakni visual, auditori, dan kinestetik. Saya sendiri dan Mahar, tampaknya masuk dalam kategori Visual. Ketiga tipe di atas berdasar pada model yang dikemukakan oleh Fleming dengan model VAK/VARK-nya. Model ini memang yang paling terkenal.
Ciri orang yang mempunyai model cara belajar visual adalah senang membaca, kalau mengajari orang lain lebih suka dengan demo daripada dengan ceramah, dan lebih mudah belajar dengan melihat. Pada orang yang mempunyai gaya belajar Auditori, mereka lebih suka mendengarkan, kalaupun membaca, mereka membaca dengan keras. Tipe auditori juga fasih berbicara. Beda lagi dengan tipe kinestetik, mereka ini belajar dengan praktek.
Bagaimana dengan kenyataan di waktu pengajaran untuk teknik informatika? Pada kenyataannya, kuliah-kuliah yang diberikan kebanyakan adalah model praktek, di mana saya melihat, secara teoritis - sekali lagi secara teoritis, tipe visual dan tipe kinestetik lah yang paling bisa mengikuti perkuliahan.
Mungkin bisa saya berikan contoh, dalam memberikan kuliah pemrograman, maka pengajar kemungkinan akan menuliskan kode-kode di papan, atau mungkin memperlihatkan melalui proyektor. Tipe Visual, akan melihat dengan tekun. Tipe kinestetik, mungkin bisa langsung membuka laptop, tidak begitu memperhatikan pengajarnya. Bagaimana dengan tipe audio? Saya melihat, merekalah yang mungkin agak kesulitan, karena tidak mungkin pengajar membicarakan kode tanpa menuliskannya. Namun, tentunya, hal ini tidak berlaku untuk mata kuliah E-Business, di mana tipe kinestetik yang mungkin kebingungan.
Pernyataan di atas sendiri mungkin kurang berdasar, karena penelitian yang akurat mengenai hal ini belum ada. Hanya merasa sendiri. Ingin tahu yang mana yang tipe audio? Pada waktu kuliah pemrograman, lihat saja yang terbiasa berpakaian rapi dan pada waktu kuliah berbicara sendiri. :D
Tapi tentu saja, perlu saya tekankan, tipe audio berbeda dengan tipe "celometan". Tipe audio memang akan berbicara sendiri ketika dia bingung, tapi ketika temannya disuruh maju, dia tidak akan "menyoraki".
Berdasar model Fleming, saya sendiri kesulitan memecahkan masalah di atas. Saat ini saya berusaha memahami dengan model lain, yakni model Gregorc Style Deliniator hasil penelitian Anthony Grecorc, yang terdiri dari 4 tipe: Concrete Sequensial, Abstract Sequensial, Concrete Random, dan Abstract Random. Sayangnya referensi dengan pemodelan ini masih kurang di Indonesia.
Ada yang punya ide bagaimana cara mengajari si tipe audio ini?
Ciri orang yang mempunyai model cara belajar visual adalah senang membaca, kalau mengajari orang lain lebih suka dengan demo daripada dengan ceramah, dan lebih mudah belajar dengan melihat. Pada orang yang mempunyai gaya belajar Auditori, mereka lebih suka mendengarkan, kalaupun membaca, mereka membaca dengan keras. Tipe auditori juga fasih berbicara. Beda lagi dengan tipe kinestetik, mereka ini belajar dengan praktek.
Bagaimana dengan kenyataan di waktu pengajaran untuk teknik informatika? Pada kenyataannya, kuliah-kuliah yang diberikan kebanyakan adalah model praktek, di mana saya melihat, secara teoritis - sekali lagi secara teoritis, tipe visual dan tipe kinestetik lah yang paling bisa mengikuti perkuliahan.
Mungkin bisa saya berikan contoh, dalam memberikan kuliah pemrograman, maka pengajar kemungkinan akan menuliskan kode-kode di papan, atau mungkin memperlihatkan melalui proyektor. Tipe Visual, akan melihat dengan tekun. Tipe kinestetik, mungkin bisa langsung membuka laptop, tidak begitu memperhatikan pengajarnya. Bagaimana dengan tipe audio? Saya melihat, merekalah yang mungkin agak kesulitan, karena tidak mungkin pengajar membicarakan kode tanpa menuliskannya. Namun, tentunya, hal ini tidak berlaku untuk mata kuliah E-Business, di mana tipe kinestetik yang mungkin kebingungan.
Pernyataan di atas sendiri mungkin kurang berdasar, karena penelitian yang akurat mengenai hal ini belum ada. Hanya merasa sendiri. Ingin tahu yang mana yang tipe audio? Pada waktu kuliah pemrograman, lihat saja yang terbiasa berpakaian rapi dan pada waktu kuliah berbicara sendiri. :D
Tapi tentu saja, perlu saya tekankan, tipe audio berbeda dengan tipe "celometan". Tipe audio memang akan berbicara sendiri ketika dia bingung, tapi ketika temannya disuruh maju, dia tidak akan "menyoraki".
Berdasar model Fleming, saya sendiri kesulitan memecahkan masalah di atas. Saat ini saya berusaha memahami dengan model lain, yakni model Gregorc Style Deliniator hasil penelitian Anthony Grecorc, yang terdiri dari 4 tipe: Concrete Sequensial, Abstract Sequensial, Concrete Random, dan Abstract Random. Sayangnya referensi dengan pemodelan ini masih kurang di Indonesia.
Ada yang punya ide bagaimana cara mengajari si tipe audio ini?
Tuesday, January 4, 2011
Ujian Coding
Kalau ditanya, ujian model apa yang tidak saya suka. Salah satunya adalah ujian membuat program yang dilakukan di atas kertas.
Bagi yang mengerjakan soal, membuat sebuah program di atas kertas, kemungkinan besar menyebabkan kesalahan. Selain itu, manual pemrograman itu sangat tebal serta susah dihafalkan.
Bagi yang memeriksa hasil ujian, hal itu sangat melelahkan, karena harus memahami logika yang mengerjakan, yang kemungkinan hasilnya sama tapi tekniknya berbeda, selain itu harus toleransi terhadap kesalahan yang tidak terlalu besar, semisal lupa mengasih tanda titik-koma.
Bagi yang mengerjakan soal, membuat sebuah program di atas kertas, kemungkinan besar menyebabkan kesalahan. Selain itu, manual pemrograman itu sangat tebal serta susah dihafalkan.
Bagi yang memeriksa hasil ujian, hal itu sangat melelahkan, karena harus memahami logika yang mengerjakan, yang kemungkinan hasilnya sama tapi tekniknya berbeda, selain itu harus toleransi terhadap kesalahan yang tidak terlalu besar, semisal lupa mengasih tanda titik-koma.
Thursday, March 25, 2010
Ujian Nasional, Antara Ada dan Tiada

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Senin, 23 Maret kemarin, ujian nasional untuk tingkat SMA dimulai. Banyak sekali pro dan kontra mengenai keberadaan ujian nasional. Saya sendiri termasuk yang pro ujian nasional. Namun, saya mengakui, memang ujian nasional ini sendiri hanya menilai sebagian kecil sisi dari seorang siswa. Namun, di sisi lain, penilaian untuk sisi lain, sangat rawan untuk dicurangi. Sebagai contoh, katakanlah kita mau menilai keahlian siswa dalam melukis, standart apa yang digunakan untuk mengatakan lukisan siswa tersebut bagus?
Ada beberapa solusi yang saya kira bisa dilakukan untuk menjembatani ketimpangan ini, pertama, soal yang digunakan tetap sama, namun, standart kelulusan berbeda untuk tiap wilayah. Sebagai misal, standart kelulusan matematika untuk pulau jawa 5, tapi untuk sumatera 4.
Ada solusi yang lain, yang bisa dikatakan malah lebih ekstrim, yakni, biarkan standart kelulusan diberikan oleh sekolah, tapi nilai pelajaran dalam unas tetap muncul apa adanya. Jadi berbeda dengan standart kelulusan sebelumnya, yang sebagian masih diatur pemerintah, standart ini dilepas, tapi yang berhak memberikan nilai adalah dari Departemen Pendidikan Nasional.
Bagaimana menurut anda? Punya solusi lain?
Saturday, March 13, 2010
Lanjutkan Kerja Ataukah Selesaikan TA?

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Lanjutkan Kerja Ataukah Selesaikan TA?
Pertanyaan ini diajukan kepada saya oleh Pak Amin kemarin. Sepertinya kasus umum, dimana mahasiswa semester akhir sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah merasa nyaman. Dalam hal ini, saya tidak memberikan jawaban langsung, tapi balas memberikan pertanyaan-pertanyaan balik.
Berikut pertanyaan-pertanyaan balik yang saya ajukan.
- Baguskah pernyataan, buat apa kuliah, SD saja bisa kaya?
- Berapa orang yang bisa menemukan pekerjaan dan mempertahankan pekerjaan antara yang lulus SMA dengan yang lulus kuliah?
- Pengalaman memang lebih penting, tapi seleksi awal masuk sebuah pekerjaan ternyata lebih mementingkan gelar, jadi benarkah yang satu lebih penting daripada yang lain?
- Manakah yang kamu pilih, berhenti bekerja sebentar sekitar selama 4 bulan untuk menyelesaikan TA, atau bekerja, dan apabila nanti diminta ada gelar, kuliah lagi selama 4 tahun, yang nanti akhirnya bertemu lagi dengan TA selama 4-6 bulan? Apakah kamu ingin membeli gelar seperti yang dilakukan oleh beberapa anggota DPR beberapa waktu yang lalu ataukah kuliah lagi?
Jalan manakah yang kamu pilih?
Subscribe to:
Posts (Atom)