Wahai anakku,
Sesungguhnya ALLOH,
mengawali penciptaan langit dan bumi,
beserta isinya,
dengan ucapan Alhamdulillah,
maka,
kami sambut awal kehadiranmu di dunia ini,
dengan bacaan Alhamdulillah
Wahai anakku,
Sesungguhnya ketika ruhmu akan ditiupkan ke jasadmu,
engkau telah diangkat sumpahmu,
Laa ilaaha illa ALLOH
Tiada tuhan selain ALLOH,
Kami di sini hanya mengingatkanmu kembali,
Semoga engkau tidak lalai
Wahai anakku,
Penuhilah hak ALLOH,
ALLOH akan memenuhi hakmu.
Jagalah ibadahmu,
Terutama sholatmu dan sholat wustho.
Wahai anakku,
Penuhilah hak ALLOH,
Niscaya ALLOH akan memenuhi hakmu.
Jagalah ibadahmu,
Terutama sholatmu,
dan sholat Wustha
Wahai anakku,
Ketahuilah bahwa Muhammad adalah utusan ALLOH,
Beliau hanyalah hamba ALLOH,
Yang tidak layak disembah,
Namun beliau adalah sebaik-baik panutan,
melebihi diri kami,
Jika engkau melihat akhlak kami menyelisihi beliau,
tinggalkanlah, dan mohon ampunkanlah bagi kami.
Wahai anakku,
Jagalah hak ibu dan ayahmu,
Jagalah hak-hak keluargamu,
Jagalah hak-hak tetanggamu,
dan jagalah hak-hak orang yang lemah dan miskin di sekitarmu.
Wahai anakku,
Jagalah farjimu,
Jauhilah hal-hal yang mendekatkanmu pada perzinahan,
Jagalah pula kehalalan apa-apa yang masuk di perutmu,
Karena lemahnya umat saat ini,
Bukan karena mereka bodoh,
Tapi karena mereka tidak mau menjaga diri.
Wahai anakku,
Ingatkanlah selalu kaum lelakimu,
Untuk sholat jama'ah di masjid,
Karena lemahnya persatuan umat ini,
Karena mereka bermalas-malasan,
untuk menunaikan sholat wajib berjama'ah.
Pare, 26 September 2011, 07.30
Menunggu detik-detik kelahiran,
Inilah yang kuucapkan pertama kali untuk anakku ketika diserahkan bidan.
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Wednesday, September 28, 2011
Monday, May 23, 2011
Syukuri Rizki dari Suami
Beberapa hari lalu bermain ke rumah seorang teman, tepatnya sih bukan teman, malah bisa dikatakan beliau lebih cocok dikatakan sebagai ayah saya kalau dilihat secara umur.
Pada waktu ke sana, kebetulan ada putri beliau yang sedang bertelephon dengan adiknya yang juga seorang cewek. Karena kebetulan suaranya agak keras jadi saya kedengaran. :D Nah ceritanya, putri beliau sedang memarahi adiknya yang ingin berumrah selama katakanlah 2 pekan, padahal suaminya hanya punya waktu sepekan.
Ada beberapa kalimat menarik dari beliau, mungkin seperti berikut kalau saya tulis ulang, "Suami adalah pemimpin wanita, jika kamu bersyukur dengan kesempatan yang diberikan oleh suamimu untuk berumrah, maka InsyaALLOH rizki mengalir, jika tidak, ... (saya lupa bagian ini). Jika kamu mendapat rizki dari suami, terima saja, jangan meminta lebih."
Perlu dicatat, rumah anak si Bapak ini besar sekali, dan punya banyak bisnis. Kalau saja yang berkata itu bukan orang kaya, mungkin kalimat di atas tidak terlalu saya perhatikan.
Pada waktu ke sana, kebetulan ada putri beliau yang sedang bertelephon dengan adiknya yang juga seorang cewek. Karena kebetulan suaranya agak keras jadi saya kedengaran. :D Nah ceritanya, putri beliau sedang memarahi adiknya yang ingin berumrah selama katakanlah 2 pekan, padahal suaminya hanya punya waktu sepekan.
Ada beberapa kalimat menarik dari beliau, mungkin seperti berikut kalau saya tulis ulang, "Suami adalah pemimpin wanita, jika kamu bersyukur dengan kesempatan yang diberikan oleh suamimu untuk berumrah, maka InsyaALLOH rizki mengalir, jika tidak, ... (saya lupa bagian ini). Jika kamu mendapat rizki dari suami, terima saja, jangan meminta lebih."
Perlu dicatat, rumah anak si Bapak ini besar sekali, dan punya banyak bisnis. Kalau saja yang berkata itu bukan orang kaya, mungkin kalimat di atas tidak terlalu saya perhatikan.
Monday, January 21, 2008
Orang Yang Bersiwak dengan Siwak Orang Lain
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Kitab Sholat Jum'at dari Shahih Bukhari. Adapun, Abdurrahman adalah saudara dari 'Aisyiyah.
Jujur saja, aku tadi sempat meneteskan air mata ketika membaca ulang hadits ini dan mengingat kembali penjelasan Ustadz Soekamto di kajian pagi sebelumnya.
Sebenarnya ada 3 hikmah yang terkandung dari hadits ini. Pertama, sesuai yang tercantum dalam judul bab, Imam Bukhari menunjukkan, bolehnya memakai siwak orang lain. Kedua, menunjukkan, bolehnya bersiwak sewaktu-waktu, walaupun tidak sholat. Ketiga, menunjukkan bagaimana hidup dalam berkeluarga, yang ditunjukkan oleh keluarga Rasulullah.
Mengingat penjelasan yang terakhir inilah yang sempat membuat aku meneteskan air mata ketika sedang mengingat kembali penjelasan hadits tersebut, padahal aku tertawa ketika mendengarkan penjelasan Ustadz Soekamto pada waktu kajian beliau.
Lihat saja, bagaimana perhatian 'Aisyah terhadap Rasulullah, yang tahu beliau ingin bersiwak, sehingga siwak saudaranya dimintakan, juga sudah disiapkan oleh 'Aisyah agar bisa langsung dipakai.
Lihat juga ketika Rasulullah, langsung memakai siwak itu, meskipun itu bekas mulut 'Aisyah. Sedangkan, aku khawatir, diriku nanti ketika sudah tua, ketika sikat gigi tinggal satu yang merupakan milik istriku, kemudian istriku nanti menawariku sikat giginya untuk dipinjam, aku malah bilang, "Bekas 'gidal'-mu gitu kamu kasihkan aku." (Maaf, contoh kasar). Padahal ketika masih muda, menganggap hal ini sebagai hal yang mesra.
Lihat juga, bagaimana Rasulullah ingin bermanja kepada istrinya, meskipun ada orang lain di depannya. Yang mungkin, ketika tua nanti, aku bahkan malu hanya untuk sekedar menggandeng tangan istriku di depan umum, yang dalam pikiranku, mungkin "Kayak anak kecil saja, bergandengan tangan." Padahal ketika masih muda, aku mau menggandeng tangannya karena ingin menunjukkan, inilah istriku, kepada orang lain.
Lihat juga, bagaimana sikap 'Aisyah yang menerima keinginan suaminya yang ingin dimanja.
Aku tidak bisa membayangkan, terhadap 'Aisyah saja seperti ini. Bagaimana dengan Khadijah, yang nyatanya, Rasulullah sendiri saja jauh lebih mencintai beliau? Padahal beliau berumur 15 tahun lebih tua daripada Rasulullah. Bisakah aku seperti itu? Sebuah kemesraan yang istiqamah, walau sudah beberapa tahun usia pernikahan. Berlawanan dengan kejadian dalam anekdot pernikahan ini. Sungguh, aku iri dengan keluarga itu.
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Dari 'Aisyah R.A., dia berkata,
"Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah SAW sambil membawa siwak untuk membersihkan gigi. Rasulullah SAW melihatnya, maka aku berkata kepadanya,
'Wahai Abdurrahman, berikanlah siwakmu itu kepadaku'.
Maka dia memberikannya kepadaku. Aku patahkan ujungnya dengan gigiku, lalu aku kunyah. Setelah itu aku berikan kepada Rasulullah SAW, dan beliau membersihkan giginya dengan siwak itu sambil bersandar di dadaku."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Kitab Sholat Jum'at dari Shahih Bukhari. Adapun, Abdurrahman adalah saudara dari 'Aisyiyah.
Jujur saja, aku tadi sempat meneteskan air mata ketika membaca ulang hadits ini dan mengingat kembali penjelasan Ustadz Soekamto di kajian pagi sebelumnya.
Sebenarnya ada 3 hikmah yang terkandung dari hadits ini. Pertama, sesuai yang tercantum dalam judul bab, Imam Bukhari menunjukkan, bolehnya memakai siwak orang lain. Kedua, menunjukkan, bolehnya bersiwak sewaktu-waktu, walaupun tidak sholat. Ketiga, menunjukkan bagaimana hidup dalam berkeluarga, yang ditunjukkan oleh keluarga Rasulullah.
Mengingat penjelasan yang terakhir inilah yang sempat membuat aku meneteskan air mata ketika sedang mengingat kembali penjelasan hadits tersebut, padahal aku tertawa ketika mendengarkan penjelasan Ustadz Soekamto pada waktu kajian beliau.
Lihat saja, bagaimana perhatian 'Aisyah terhadap Rasulullah, yang tahu beliau ingin bersiwak, sehingga siwak saudaranya dimintakan, juga sudah disiapkan oleh 'Aisyah agar bisa langsung dipakai.
Lihat juga ketika Rasulullah, langsung memakai siwak itu, meskipun itu bekas mulut 'Aisyah. Sedangkan, aku khawatir, diriku nanti ketika sudah tua, ketika sikat gigi tinggal satu yang merupakan milik istriku, kemudian istriku nanti menawariku sikat giginya untuk dipinjam, aku malah bilang, "Bekas 'gidal'-mu gitu kamu kasihkan aku." (Maaf, contoh kasar). Padahal ketika masih muda, menganggap hal ini sebagai hal yang mesra.
Lihat juga, bagaimana Rasulullah ingin bermanja kepada istrinya, meskipun ada orang lain di depannya. Yang mungkin, ketika tua nanti, aku bahkan malu hanya untuk sekedar menggandeng tangan istriku di depan umum, yang dalam pikiranku, mungkin "Kayak anak kecil saja, bergandengan tangan." Padahal ketika masih muda, aku mau menggandeng tangannya karena ingin menunjukkan, inilah istriku, kepada orang lain.
Lihat juga, bagaimana sikap 'Aisyah yang menerima keinginan suaminya yang ingin dimanja.
Aku tidak bisa membayangkan, terhadap 'Aisyah saja seperti ini. Bagaimana dengan Khadijah, yang nyatanya, Rasulullah sendiri saja jauh lebih mencintai beliau? Padahal beliau berumur 15 tahun lebih tua daripada Rasulullah. Bisakah aku seperti itu? Sebuah kemesraan yang istiqamah, walau sudah beberapa tahun usia pernikahan. Berlawanan dengan kejadian dalam anekdot pernikahan ini. Sungguh, aku iri dengan keluarga itu.
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Subscribe to:
Posts (Atom)