Showing posts with label fiqih. Show all posts
Showing posts with label fiqih. Show all posts

Tuesday, November 20, 2007

Apakah Saya Termasuk Orang-orang yang Berbuat Ihsan?

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Apakah saya termasuk orang-orang yang berbuat ihsan? Dari ayat-ayat dalam posting sebelumnya, saya mendapatkan definisi berikut:

[1] Orang yang berbuat ihsan adalah orang-orang yang apabila membalas perbuatan, tidak melakukannya secara berlebihan.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Baqarah (2) ayat 194-195 di mana ketika orang-orang yang berbuat ihsan diserang, maka mereka diperbolehkan membalas dengan seimbang.

[2] orang yang berinfak di waktu luang maupun sempit.
Hal ini bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.

[3] orang yang bisa menahan amarahnya dan mampu memaafkan.
Hal ini juga bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.

[4] orang-orang yang apabila dikhianati oleh orang-orang yang berasal dari suatu kelompok, maka dia tidak membalas pada seluruh komponen kelompok tersebut, namun hanya membalas pada yang berkhianat. Adapun yang tidak berkhianat, maka orang-orang yang berbuat ihsan akan memaafkan.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 13.

[5] orang-orang yang beriman dan bertaqwa serta tetap istiqamah terhadap iman dan taqwanya.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 93.

Pertanyaannya. Apakah saya termasuk golongan ini? Semoga saja saya bisa termasuk dalam kelompok orang-orang yang berbuat ihsan. Aaamiiin. Tapi sepertinya kok butuh perjuangan berat dan panjang ya (istiqamah).

Bersambung ...


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi


Artikel sebelumnya ...

Saturday, November 3, 2007

Sesungguhnya ALLOH Mencintai Orang-orang Yang Berbuat Ihsan

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Sesungguhnya ALLOH SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Hal ini diungkapkan oleh ALLOH dalam surat al-Baqarah (2) ayat 194-195:



الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (194) وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195

Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [194]
Dan nafkahkanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat Ihsan-lah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [195]


Begitu pula dalam surat Ali Imran (3) ayat 134



الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan.


Juga dalam surat Ali Imran (3) ayat 147-148:



وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148

Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". [147]
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [148]

Dan dalam surat al-Maidah (5) ayat 13:



فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (13

Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [13]


Serta dalam surat al-Maidah (5) ayat 93:


لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (93

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [93]


Bersambung ...


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi


Artikel Sebelumnya ...

Tuesday, October 9, 2007

Sesungguhnya ALLOH Mencintai Orang-orang Yang ...

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Terinspirasi oleh posting Bu Yuhana yang menceritakan tentang orang-orang yang dicintai oleh ALLOH versi Opick dalam lagunya berjudul "ALLOH Cinta" dalam album "Ya Rahman" , saya jadi teringat tentang kajian dari Ustadz Sumardi yang berbicara tentang orang-orang yang dicintai ALLOH.

Dalam al-Qur'an, ada beberapa golongan yang dicintai oleh ALLOH, yakni:
01. al-Muhsiniin, yakni orang-orang yang berbuat ihsan .
02. at-Tawwabiin, yakni orang-orang yang bertaubat.
03. al-Mutathahhiriin, yakni orang-orang yang mensucikan diri.
04. al-Muttaqiin, yakni orang-orang yang bertaqwa.
05. ash-Shaabiriin, yakni orang-orang yang sabar.
06. al-Mutawakkiliin, yakni orang-orang yang bertawakkal.
07. al-Muqsithiin, yakni orang-orang yang berbuat qisthi . (Blog ini sebenarnya pernah membahas tentang perbedaan antara qisthi dan adli )


Bersambung ...

Friday, July 6, 2007

Poliandri Dalam Islam

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim


Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
[Surat an-Nisaa' (4) ayat 3]


Salah satu prinsip dalam tafsir al-Qur'an, apabila suatu hukum berlaku bagi laki-laki, maka hal tersebut juga berlaku sebaliknya, kecuali ada ayat lain yang menjelaskan. Dalam ayat ini, dijelaskan, seorang laki-laki boleh menikahi dua orang perempuan atau lebih dengan batasan maksimar empat orang istri. Pertanyaannya, apakah hukum ini juga berlaku bagi perempuan? ALLOH SWT berfirman:


Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[Surat an-Nisaa' (4) ayat 24]


Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa seorang laki-laki-laki dilarang menikahi istri orang lain. Ayat inilah yang menjelaskan Surat an-Nisaa' (4) ayat 3, bahwa poliandri dilarang dalam Islam.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Saturday, June 30, 2007

Qisthi vs Adli

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim


Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [red: qisthi] terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [red: adli], maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
[Surat an-Nisaa' (4) ayat 3]


Sebenarnya saya agak bosan menulis tentang ayat ini. Maklum, ayat ini termasuk ayat yang terlalu banyak didebatkan. Namun saya akan menuliskan sisi lain ayat ini.

Dalam ayat ini ada dua kata yang berbeda namun diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi kata yang sama. Jujur saja, saya sendiri masih kesusahan dalam menjelaskan kedua kata ini.

Qisthi, adalah kondisi adil di mana semua pihak yang bersengketa puas setelah persengkataan terselesaikan oleh pihak hakim. Sebagai misal, kalau saja kita punya anak kembar dengan umur yang sama, maka kita beri keduanya uang saku yang sama. Dengan begini keduanya mendapatkan ke-qisthi-an.

Beda lagi dengan adli, salah satu pihak yang bersengketa, pasti masih tidak puas. Dalam kasus ini, misal punya 2 istri. Yang satu tidak punya anak, yang satunya lagi punya 2 anak. Tentu saja sang suami, sebagai pihak hakim dalam hal ini, memutuskan memberi uang belanja yang lebih banyak pada istri yang punya anak. Dan hal ini, keputusan ini sudah bisa dikatakan sebagai adli, meskipun pihak istri yang tidak punya anak tidak puas.

Pencampur-adukan dua kata ini sebenarnya sudah lama terjadi, dan saya sudah mau menjelaskannya dulu, waktu ramai-ramainya kasusnya A'a. Tapi berhubung waktu itu ada yang protes gara-gara saya terlalu banyak membahas kasus tersebut, maka saya menghentikannya. Dan kali ini saya tulis kembali ayat tersebut, karena ada yang menanyakannya lagi, padahal sudah diputuskan, kasus ditutup. Dan tampaknya, dalam seminggu ke depan, saya akan menulis ayat ini dalam perspektif yang berbeda lagi. :D


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi