Friday, January 25, 2008

Kemampuan Sama, Kecepatan Berbeda

Bismillah

Waktu berbincang-bincang dengan salah seorang anggota dewan penasehat dan seorang kawan baik, 23 Desember lalu di kampus, dapat nasehat bagus dari sang anggota dewan penasehat.


Ngapain kamu nggak pedhe. Apa yang orang lain lakukan, bisa kamu lakukan. Bedanya, kamu memerlukan waktu yang lebih lama.

Memilih Berdasar Aqidah

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Perlu dicatat, hal di bawah ini belum pernah terjadi pada saya.

Studi kasus pertama:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."
Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"
Jawabnya, "Kan mas belum jadi suamiku."

Studi kasus kedua:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Kan jilbab itu gak wajib"
...

Studi kasus ketiga:
Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.
"Mas, kamu mau menikahi aku?"
Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."
Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."
Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"
Jawabnya, "Karena aku masih belum bisa lepas dari ortuku."

Dalam studi kasus di atas, ketiga orang itu tidak mau berjilbab. Namun, ketika aku bertemu studi kasus yang pertama, jelas orang itu langsung aku coret dari daftarku. (sombong banget) Lho, kenapa? Karena dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, bukan karena mempunyai pemahaman yang berbeda. Tapi dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, dengan syarat orang lain. Hal ini sangat berhubungan dengan aqidah. Ketika sebuah ibadah sudah mampu dilaksanakan tanpa ada yang menghalang-halangi, yang berarti saat itu, dia mengalami kondisi yang paling mudah untuk merubah diri, namun dia tidak mau berubah, perlu dipertanyakan niatnya. Atas dasar apa dia ingin berubah? Sesungguhnya amal itu berdasarkan niatnya.

Bagaimana dengan studi kasus kedua dan ketiga. Diskusi-diskusi selanjutnya akan sangat menentukan. Yang jelas, aqidah harus diutamakan.

Perangkat Lunak Bagus

Bismillah

Dari Yudha, Semoga ALLOH selalu menyayanginya (Soalnya, kalau aku tulis Rahimahulloh, pasti diprotes):

Ada perangkat lunak bagus di sana.

Katanya, Laki-laki Umur 40 itu ...

Bismillah

Sebelumnya, tulisan ini adalah tulisan yang mengandung opini, tanpa ada sumber yang jelas. Tulisan ini juga muncul, karena beberapa waktu lalu lihat ada buku berjudul Misteri Umur 40 Tahun. Melihat judul buku ini, aku langsung terkejut. Belum setahun, aku mendapat nasehat ini dari ayah ibuku. Tapi, karena harus hemat, gak beli deh. :D

Menurut kedua beliau, seorang wanita, mengalami masa kejayaannya pada usia 20-30 tahun. Kecantikannya, kesuksesannya dan lain sebagainya. Berbeda dengan laki-laki, yang malah mengalami masa kejayaannya pada usia 35-45 tahun. Ini juga mungkin, yang konon katanya, rata-rata perempuan lebih cepat puber 2 tahun daripada laki-laki.

Begini nasehat kedua beliau, kamu gak akan menjadi laki-laki hingga kamu melewati ujian usia 40 tahun. Di saat itu, akan banyak wanita muda yang menyukaimu karena ketampananmu. (absurd banget, aku saja gak ngerti tampan itu bagaimana) Di saat itu pula banyak kasus perselingkuhan. Kalaupun kamu gak selingkuh, istrimu yang akan khawatir. Di saat itu pula, banyak ujian menderamu. Ujian anak, ujian harta, dan ujian-ujian lain. Mendengar itu, aku jadi dag dig dug. Waduh, belum apa-apa kok sudah dikasih cerita syerem gini. Tapi ini yang terakhir, kalau kamu lulus dari ujian usia tersebut, tingkat kebijaksanaanmu akan berbeda.

Gak paham, sumpah gak paham. Bahkan waktu itu ku dengarkan sambil lalu. Tapi kok ya kemudian lihat judul buku itu. Karena mendengarkan sambil lalu, mungkin apa yang ku tangkap di atas bisa jadi keliru. Jadi bertanya-tanya, aku nanti kayak apa ya di usia 40 tahun.

Monday, January 21, 2008

Orang Yang Bersiwak dengan Siwak Orang Lain

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim


Dari 'Aisyah R.A., dia berkata,
"Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah SAW sambil membawa siwak untuk membersihkan gigi. Rasulullah SAW melihatnya, maka aku berkata kepadanya,
'Wahai Abdurrahman, berikanlah siwakmu itu kepadaku'.
Maka dia memberikannya kepadaku. Aku patahkan ujungnya dengan gigiku, lalu aku kunyah. Setelah itu aku berikan kepada Rasulullah SAW, dan beliau membersihkan giginya dengan siwak itu sambil bersandar di dadaku."


Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Kitab Sholat Jum'at dari Shahih Bukhari. Adapun, Abdurrahman adalah saudara dari 'Aisyiyah.

Jujur saja, aku tadi sempat meneteskan air mata ketika membaca ulang hadits ini dan mengingat kembali penjelasan Ustadz Soekamto di kajian pagi sebelumnya.

Sebenarnya ada 3 hikmah yang terkandung dari hadits ini. Pertama, sesuai yang tercantum dalam judul bab, Imam Bukhari menunjukkan, bolehnya memakai siwak orang lain. Kedua, menunjukkan, bolehnya bersiwak sewaktu-waktu, walaupun tidak sholat. Ketiga, menunjukkan bagaimana hidup dalam berkeluarga, yang ditunjukkan oleh keluarga Rasulullah.

Mengingat penjelasan yang terakhir inilah yang sempat membuat aku meneteskan air mata ketika sedang mengingat kembali penjelasan hadits tersebut, padahal aku tertawa ketika mendengarkan penjelasan Ustadz Soekamto pada waktu kajian beliau.

Lihat saja, bagaimana perhatian 'Aisyah terhadap Rasulullah, yang tahu beliau ingin bersiwak, sehingga siwak saudaranya dimintakan, juga sudah disiapkan oleh 'Aisyah agar bisa langsung dipakai.

Lihat juga ketika Rasulullah, langsung memakai siwak itu, meskipun itu bekas mulut 'Aisyah. Sedangkan, aku khawatir, diriku nanti ketika sudah tua, ketika sikat gigi tinggal satu yang merupakan milik istriku, kemudian istriku nanti menawariku sikat giginya untuk dipinjam, aku malah bilang, "Bekas 'gidal'-mu gitu kamu kasihkan aku." (Maaf, contoh kasar). Padahal ketika masih muda, menganggap hal ini sebagai hal yang mesra.

Lihat juga, bagaimana Rasulullah ingin bermanja kepada istrinya, meskipun ada orang lain di depannya. Yang mungkin, ketika tua nanti, aku bahkan malu hanya untuk sekedar menggandeng tangan istriku di depan umum, yang dalam pikiranku, mungkin "Kayak anak kecil saja, bergandengan tangan." Padahal ketika masih muda, aku mau menggandeng tangannya karena ingin menunjukkan, inilah istriku, kepada orang lain.

Lihat juga, bagaimana sikap 'Aisyah yang menerima keinginan suaminya yang ingin dimanja.

Aku tidak bisa membayangkan, terhadap 'Aisyah saja seperti ini. Bagaimana dengan Khadijah, yang nyatanya, Rasulullah sendiri saja jauh lebih mencintai beliau? Padahal beliau berumur 15 tahun lebih tua daripada Rasulullah. Bisakah aku seperti itu? Sebuah kemesraan yang istiqamah, walau sudah beberapa tahun usia pernikahan. Berlawanan dengan kejadian dalam anekdot pernikahan ini. Sungguh, aku iri dengan keluarga itu.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Friday, January 18, 2008

Mengapa Ada Orang Yang Susah Mati

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Sebelumnya maaf, mood untuk menulis tentang nikah sudah hilang lagi. Sekarang mood-nya lagi menulis tentang kematian. Tampaknya, mood ini muncul karena wafatnya Pak Senen dan mungkin akan wafatnya seorang tokoh besar bangsa Indonesia.

Dalam kejadian meninggalnya seseorang, mungkin kita bertanya-tanya, mengapa sih ada orang yang matinya itu susah banget, padahal sudah didoakan orang banyak agar segera wafat.? Selain itu, mati yang susah tersebut sebenarnya menyenangkan tidak sih?

Pertama, seseorang mati susah itu bukan karena malaikat mempermainkan nyawa manusia. Tapi jiwa manusia itu yang tidak mau meninggalkan jasadnya. Seperti yang tercantum dalam Surat al-An'am (6) ayat 93 berikut:


Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.


Ayat tersebut, juga memperlihatkan, betapa susahnya orang yang mati seperti itu. Bagaimana tidak susah. Supaya, bisa segera mati, malaikat sampai memukul dengan tangannya.

Pertanyaannya selanjutnya? Mengapa mereka tidak mau segera mati? Karena mereka takut mati. Lihat di Surat Qaaf (50) ayat 19 berikut:


Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.


Pertanyaan selanjutnya. Mengapa takut mati? Karena, sejak kita akan mati, kita menjadi orang yang sangat cerdas luar biasa. Kita bisa mengingat semua yang telah kita lakukan, karena tabir yang menutup mata kita terbuka. Jika sekarang kita berbuat dosa, sejam kemudian kita lupa. Maka, mungkin nanti kita akan mengingat semua kesalahan-kesalahan kita sejak kecil. Dan orang-orang yang susah mati itu tahu, bahwa dia harus tetap hidup. (Catatan: paragraf ini banyak mengandung kalimat yang mengira-ngira sendiri, karena penulis belum pernah mati). Lihat Surat Qaaf (50) ayat 22:


Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.


Wallahu'alam bish Shawwab.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Thursday, January 17, 2008

Di Mana Bumi Dipijak dan Langit Dijunjung

Di mana bumi dipijak dan langit dijunjung, di situ saya bisa disambar petir.

-ask-
Lagi kumat. :D

Wednesday, January 16, 2008

Kematian Yang Tampak Menyenangkan

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Saat itu, Ahad 13 Januari, setengah jam sebelum Subuh. Orang-orang berkerumun mengelilingi sesosok mayat yang berada 5 meter sebelah selatan dari Masjid al-Kahfi. Kalau saja sebelah utara, pastilah berada tepat di depan rumahku. Nama orang itu Pak Senen.

Setengah jam sebelumnya, jam 3 pagi, seperti biasa, Pak Senen berangkat ke masjid. Beliau memang orang yang paling sering datang subuh pertama kali. Menurut penjual pecel di depan rumahku, yang buka mulai jam 10an malam sampai 3 pagi, beliau melihat Pak Senin duduk. Ingat! Duduk. Bukan jatuh tersungkur. Setelah setengah jam, melihat Pak Senen, Pak Penjual Pecel itu pun bertanya-tanya, dan akhirnya mendatangi Pak Senen, yang akhirnya diketahui sudah meninggal dunia.

Kamis sebelumnya, ketika kajian, Pak Senen sempat bercerita, kalau akhir-akhir ini memang penyakit jantungnya lagi kumat. Sungguh dia termasuk orang miskin, belum lagi ditimpa istrinya juga yang sakit. Namun Pak Senen, masih sabar merawat istrinya.

Melihat kematian Pak Senen yang tidak merepotkan sama sekali. Penduduk sekampung sangat iri. Begitu pula aku saat ini.

Bisakah aku mati seperti itu? Sebuah kematian yang tidak menyusahkan orang-orang di sekitarku. Sebuah kematian yang tenang. Bisa mengambil posisi terlebih dahulu. Semoga ALLOH memberikan tempat yang terbaik untuk Pak Senen.

Sunday, January 13, 2008

Yang Aku Khawatirkan

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Sekali lagi, bahas masalah nikah ya? Mumpung panas, jadi semua ide-ide saya tentang pernikahan bisa saya tumpahkan dari kepala saya. :D

Apa sih yang paling aku khawatirkan dalam sebuah pernikahan? Kebosanan alias Istiqamah.

Kebosanan ini tidak selalu bosan dengan istri, meskipun kebosanan dengan istri juga bisa terjadi.

Mungkin ini bisa menjadi gambaran, dulu kita SD, kemudian SMP, kemudian SMA, trus kuliah. Semuanya merupakan wujud dari usaha belajar. Namun, dalam semua proses belajar tersebut, saya tidak sampai mengalami kebosanan.

Beda dengan proses-proses tersebut yang hanya sekitar 3-6 tahun, maka nikah adalah proses belajar yang paling lama.

Mengapa saya saat ini kepikiran dengan masalah ini? Seperti biasa, kalau orang lain bilang, mungkin saya terlalu jauh mikirnya. Sebenarnya saya sedang menanyakan tentang letak sebuah ayat, yakni surat al-Furqan ayat 74:


Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.


Pertanyaannya. Mengapa, sebuah ayat yang mengajarkan tentang do'a untuk meminta istri dan keturunan yang bisa menjadi penenang hati, berada di tengah-tengah ayat-ayat yang berisi tentang istiqamah dalam hal beramal shalih? Silahkan baca surat al-Furqan ayat 70-76.


kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. {70}

Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. {71}

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. {72}

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. {73}

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." {74}

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, {75}

mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. {76}


Sampai saat ini yang bisa saya tangkap dari ayat-ayat tersebut, istri dan keturunan yang bisa menenangkan hati sebanding dengan usaha kita untuk bersabar dan istiqamah. Jadi, bukan sesuatu yang langsung jatuh dari langit. Pertanyaannya? Bisakah saya bersabar dan istiqamah ketika sudah dalam ikatan pernikahan nanti. Mengingat, tidak menikah hanya dengan alasan untuk menjaga ibadah juga dilarang.

Sungguh hanya ALLOH yang mengetahui dengan sebenar-benarnya.

Friday, January 11, 2008

Akad Nikah: Pilih Madzhab Yang Mana?

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Sebelumnya, perlu saya garis bawahi, tulisan ini gak serius kok. Namun membahas masalah agama, jadi juga agak serius. Nah, saya nulis ini juga karena ada dugaan saya akan menikah, yang konon sempat dibahas di YM! Conference rekan-rekan angkatan 99 karena berhubungan dengan perjanjian 3 bersaudara yang sudah dikhianati oleh 1 saudara. :D Kebetulan yang dua saudara kan dari angkatan 99, dan saya bukan angkatan 99.

Karena ramai masalah nikah, maka, sekalian saya menulis ide-ide saya tentang pernikahan. Nah yang akan dibahas sekarang tentang akad nikah.

Seperti yang kita ketahui di Indonesia, pada umumnya, pernikahan menggunakan akad nikah model madzhab Imam Syafi'ie. Yang berasal dari pemahaman, akad nikah itu harus diucapkan dengan kalimat-kalimat yang sudah dibuatkan, semacam ini:


Wali nikah:
Saya nikahkan ananda (nama calon pengantin laki-laki) .................. bin............. dengan putri kandung saya yang bernama (nama calon pengantin perempuan) ..................... binti .................. dengan mas kawin ..................... dibayar tunai/hutang.

Calon Pengantin Pria:
Saya terima nikah (nama CPW) ..................... binti .................. dengan mas kawin ..................... dibayar tunai/hutang.


Namun, kalau kita baca referensi, insyaALLOH, akad semacam itu tidak ada. Kalimat-kalimat dalam akad, bisa kita buat sendiri. Namun membuat sendiri, bisa menjadi kondisi yang buruk, karena sakralitas menjadi hilang, semisal:


Calon Pengantin Pria:
Saya mau menikahi putri bapak dengan mas kawin ......

Wali nikah:
Baiklah, saya nikahkan kamu dengan putri saya ini.


:D

Akad yang kasar kan?

Kalo saya sih pingin yang agak bagus sedikit, seperti ini:


Calon Pengantin Pria:
Demi DIA yang jiwaku berada di genggaman-NYA, pada saat ini, saya ingin menikahi ......... putri Bapak, dengan mas kawin ......... Jadi, maukah Bapak menanyakan pada ......... putri Bapak, apakah beliau bersedia menerimanya?


Waktu, aku diskusi dengan ortuku masalah ini, jaman dahulu kala. Aku yang malah dimarahi. "Secara fiqih, kamu bisa jadi benar, tapi nanti nikahmu malah gak jadi karena dianggap gak sah kalau penghulumu fanatik pada satu madzhab." :D

Wallahu'alam.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Tuesday, January 8, 2008

Kalau Ternyata Istri Lebih Fasih

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim


Bagaimana hukumnya. jika seorang suami menjadi imam sholat di dlm rumah tangganya (istri menjadi makmum), akan tetapi Si Istri lebih fasih dalam membaca AL-QUR’AN?


Mungkin jawabnya pakai hadits dari Jabir r.a. yang ini:


“Janganlah sekali-kali perempuan mengimami laki-laki, Arab Badui mengimami Muhajir (mereka yang ikut hijrah bersama nabi ke Madinah) dan pendosa mengimami mukmin yang baik.”


Ups, nggak ding, bahaya kalau hadits ini dikeluarkan, ini kan hadits lemah.

Coba pakai yang ini, dari shahih Bukhari, judul bab "Mengangkat Budak dan Mantan Budak Sebagai Imam" jilid 1:


Biasanya 'Aisyah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwan dengan membaca mushaf, sanak pezina, orang arab badui serta anak kecil yang belum baligh berdasarkan sabda Nabi SAW, "Hendaklah yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling baik bacaannya di antara mereka terhadap Kitabullah"


Sekarang ada pertanyaan. Hadits di atas kan berarti karena 'Aisyah r.a. baca al-Qur'annya gak enak, maka dia menyuruh budaknya.

Hik, ternyata bahasa Indonesia itu multi tafsir ya?

Terjemahan hadits di atas bisa bermakna:


Biasanya 'Aisyah diimami oleh budaknya yang bernama (((Dzakwan dengan membaca mushaf))), (((sanak pezina))), (((orang arab badui))) serta (((anak kecil yang belum baligh))) berdasarkan sabda Nabi SAW, "Hendaklah yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling baik bacaannya di antara mereka terhadap Kitabullah"


atau bermakna:


Biasanya 'Aisyah diimami oleh (((budaknya yang bernama Dzakwan dengan membaca mushaf))), (((sanak pezina))), (((orang arab badui))) serta (((anak kecil yang belum baligh berdasarkan sabda Nabi SAW, "Hendaklah yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling baik bacaannya di antara mereka terhadap Kitabullah")))


InsyaALLOH terjemahan yang terakhir ini yang paling benar.


Oleh:
Ali Sofyan Kholimi

Wednesday, January 2, 2008

Cermin

Cermin mungkin tidak berbohong, tapi cermin selalu memberitahukan kebalikannya.

-ask-