Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Jujur saja, baru kali ini aku merasakan, mengapa ayat yang memerintahkan kita taat kepada ALLOH, Rasul dan pimpinan kita itu ada.
Bagaimana rasanya, jika pimpinan kita memberikan perintah untuk menjaga rumah yang kemudian nantinya menjadi tempat berlindung banyak saudara kita. Di mana, saudara kita itu saat ini banyak melecehkan kita. Tentu saja, oleh para pimpinan, bagian pelecehannya diceritakan kepada penjaga rumah, namun bagian tujuan akhir menjaga rumah tersebut disimpan sendiri. Karena dengan begitu, para penjaga rumah akan mempunyai semangat untuk menjaga rumah tersebut, karena merasa memiliki. Sedang yang berada di luar rumah, semakin marah karena seolah-olah mereka terusir. Adapun para pimpinan, baik yang berada di dalam rumah tersebut, maupun yang di dalam rumah tersebut, hanya tersenyum dan mengatakan, "Bersabarlah!", yang tentu saja sering tidak ditaati, baik oleh para penjaga rumah, maupun yang seolah-olah terusir dari rumah tersebut.
Jadi teringat akan kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, di mana Nabi Musa tidak sabar akan perbuatan Nabi Khidir. Di mana, Nabi Khidir belum bisa menceritakan, mengapa beliau melaksanakan keputusan tersebut.
Jadi teringat juga, bagaimana Rasulullah menandatangani perjanjian Hudaibiyah.
Jadi teringat juga, akan keputusan Ali bin Abi Thalib, yang menyerahkan kekuasaannya. Sehingga menimbulkan pemberontakan.
Juga teringat akan sebuah hadits, di mana kita diperintahkan mengingatkan pimpinan kita akan kebijaksanaannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun jika pimpinan tidak mau dinasehati, ada sebuah kalimat lanjutan dari hadits tersebut yang sangat menggugahku saat ini. "Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu dari urusan pimpinanmu."
Jika diceritakan semua landasan mengapa para penjaga rumah harus menjaga rumah, yang nantinya diserahkan kepada yang di luar rumah, tentu rumah tersebut bisa dihancurkan oleh yang tidak suka terhadap orang-orang di luar rumah tersebut. Selain itu, para penjaga rumah tentu tidak rela semua hasil kerja kerasnya dibagi bersama orang yang di luar rumah, yang sebelumnya mencaci mereka.
Hal ini membuatku terhenyak, menjadi pimpinan rumah seperti itu saja ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Harus siap tersinggung, namun harus bisa menyejukkan dalam ketersinggungan tersebut.
Friday, December 7, 2007
Aku Ingin Menikah Tapi ...
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Perlu diketahui, tulisan ini tidak sedang me-review buku dengan judul yang sama. Namun, bagaimanapun temanya mungkin sama. Ini hasil sms-an dengan beberapa kawan.
Yang cukup menarik, ternyata, permasalahan hati yang dialami oleh pemuda-pemudi seumuran saya dalam menghadapi permasalahan ketakutan akan pernikahan adalah hampir sama.
Pertama, miskin. Menurut hitungan saya, menikah itu hanya butuh dana sekitar 500 ribu rupiah. :D Malah syukur-syukur, kalau pak penghulu-nya bersedia tidak dibayar, paling cuma habis 200 ribu rupiah. Tinggal permasalahan mahar saja. Dan gengsi pernikahan tanpa pesta.
Ups, yang jelas, pasti bukan inilah yang dibahas. Yang dibahas pastinya kehidupan setelah nikah. Kalau suami mau bekerja dan istri mau nurut dan sabar, InsyaALLOH, kemiskinan bisa teratasi. Sudah ada beberapa contoh kok dari kawan-kawanku.
Kedua, fisik. Bagi saya, keminderan seseorang terhadap bentuk fisik, sama seperti tidak mensyukuri nikmat ALLOH atas fisik kita. Misal, ada yang merasa jelek, ada yang merasa gendut gak bisa kurus, dst.
Ada cerita, tentang seorang yang tidak punya 2 tangan, kemudian melamar cewek cantik, dan ternyata cewek tersebut menerima. Kalau gak salah jawabannya mengapa cewek itu menerima, karena dia melihat ada tanggung jawab dalam pria tersebut. Dan ternyata, meskipun tidak punya tangan dan hanya bekerja dengan kaki, mereka menjadi keluarga yang kaya. (Rasanya sumbernya TranSTV)
Semangat sajalah, fisik itu bukan segalanya, namun kemauan.
Ketiga, keluarga kurang baik. Memang ada istilah pernikahan 2 orang adalah pernikahan 2 keluarga. Kalau ini, agak susah juga jawabnya. :P Belum pernah dengar permasalahan yang kompleks sih. Aku mundur saja untuk jelasin yang ini. :P Ada yang bisa memotivasi untuk permasalahan ini?
Keempat, diri kurang baik. Ini jawaban paling gampang. Perbaiki diri sendiri.
Catatan:
Tulisan ini ditulis oleh orang yang belum nikah, namun sering diajak dialog masalah pernikahan baik oleh orang-orang yang ingin menikah, akan menikah dan sudah menikah. Jadi kebenarannya masih 50%. :D
Perlu diketahui, tulisan ini tidak sedang me-review buku dengan judul yang sama. Namun, bagaimanapun temanya mungkin sama. Ini hasil sms-an dengan beberapa kawan.
Yang cukup menarik, ternyata, permasalahan hati yang dialami oleh pemuda-pemudi seumuran saya dalam menghadapi permasalahan ketakutan akan pernikahan adalah hampir sama.
Pertama, miskin. Menurut hitungan saya, menikah itu hanya butuh dana sekitar 500 ribu rupiah. :D Malah syukur-syukur, kalau pak penghulu-nya bersedia tidak dibayar, paling cuma habis 200 ribu rupiah. Tinggal permasalahan mahar saja. Dan gengsi pernikahan tanpa pesta.
Ups, yang jelas, pasti bukan inilah yang dibahas. Yang dibahas pastinya kehidupan setelah nikah. Kalau suami mau bekerja dan istri mau nurut dan sabar, InsyaALLOH, kemiskinan bisa teratasi. Sudah ada beberapa contoh kok dari kawan-kawanku.
Kedua, fisik. Bagi saya, keminderan seseorang terhadap bentuk fisik, sama seperti tidak mensyukuri nikmat ALLOH atas fisik kita. Misal, ada yang merasa jelek, ada yang merasa gendut gak bisa kurus, dst.
Ada cerita, tentang seorang yang tidak punya 2 tangan, kemudian melamar cewek cantik, dan ternyata cewek tersebut menerima. Kalau gak salah jawabannya mengapa cewek itu menerima, karena dia melihat ada tanggung jawab dalam pria tersebut. Dan ternyata, meskipun tidak punya tangan dan hanya bekerja dengan kaki, mereka menjadi keluarga yang kaya. (Rasanya sumbernya TranSTV)
Semangat sajalah, fisik itu bukan segalanya, namun kemauan.
Ketiga, keluarga kurang baik. Memang ada istilah pernikahan 2 orang adalah pernikahan 2 keluarga. Kalau ini, agak susah juga jawabnya. :P Belum pernah dengar permasalahan yang kompleks sih. Aku mundur saja untuk jelasin yang ini. :P Ada yang bisa memotivasi untuk permasalahan ini?
Keempat, diri kurang baik. Ini jawaban paling gampang. Perbaiki diri sendiri.
Catatan:
Tulisan ini ditulis oleh orang yang belum nikah, namun sering diajak dialog masalah pernikahan baik oleh orang-orang yang ingin menikah, akan menikah dan sudah menikah. Jadi kebenarannya masih 50%. :D
Subscribe to:
Posts (Atom)