Bismillah
Baca PCMedia edisi November 2007 ini, pada rubrik Viewpoint. Ada sebuah opini yang ditulis oleh Pak Bernaridho, berjudul "There's No Such Thing as Database Design". Yang bisa saya tangkap, beliau berpendapat, secara teoritis, normalisasi database mungkin ada, namun dalam tataran praktis, normalisasi hanya bisa dilakukan secara feeling.
Membaca artikel ini, saya jadi teringat waktu kuliah di Informatika ITS dahulu. Saya pernah melakukan perdebatan sengit (enak pake gaya hiperbola) mengenai desain basisdata yang bagus. Mulai dari kuliah basisdata, praktikumnya, dan beberapa kuliah selanjutnya yang melakukan desain basisdata.
Membaca artikel ini, saya teringat waktu kuliah. Dalam desain basisdata, sulit memastikan, apakah ketika kita melakukan normalisasi, apakah yang terjadi benar-benar normalisasi. Bahkan, sampai saat ini, ketika saya mendesain sebuah basis data, selalu muncul pertanyaan. "Enaknya kolom ini dipisah tidak ya?", tanpa ada landasan yang jelas.
Namun, ada yang saya kurang sependapat dengan pendapat beliau, mengenai penghapusan materi desain database. Desain database mungkin susah (baca: tidak mungkin) diterapkan, namun materi tersebut saya kira penting untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai teknik pengurangan volume space penyimpanan data.
Di lain pihak, saya kurang setuju, apabila permasalahan desain basis data digunakan sebagai bahan penilaian. Karena, seperti kata Pak Bernaridho, hal ini hanya berdasarkan feeling. Hal ini lah yang menyebabkan materi desain basis data menghabiskan 2 pertemuan di praktikum karena debat berkepanjangan antara asisten dan praktikan tanpa landasan yang jelas, dan bahkan diungkit lagi pada materi selanjutnya oleh asisten yang berbeda. Selain itu, muncul ketidak-pastian penilaian dari asisten praktikum pada materi ini.
Jadi, jangan hapuskan materi ini dari kuliah, namun hapuskan dari materi praktikum. :D
Saturday, November 24, 2007
Tuesday, November 20, 2007
Apakah Saya Termasuk Orang-orang yang Berbuat Ihsan?
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Apakah saya termasuk orang-orang yang berbuat ihsan? Dari ayat-ayat dalam posting sebelumnya, saya mendapatkan definisi berikut:
[1] Orang yang berbuat ihsan adalah orang-orang yang apabila membalas perbuatan, tidak melakukannya secara berlebihan.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Baqarah (2) ayat 194-195 di mana ketika orang-orang yang berbuat ihsan diserang, maka mereka diperbolehkan membalas dengan seimbang.
[2] orang yang berinfak di waktu luang maupun sempit.
Hal ini bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.
[3] orang yang bisa menahan amarahnya dan mampu memaafkan.
Hal ini juga bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.
[4] orang-orang yang apabila dikhianati oleh orang-orang yang berasal dari suatu kelompok, maka dia tidak membalas pada seluruh komponen kelompok tersebut, namun hanya membalas pada yang berkhianat. Adapun yang tidak berkhianat, maka orang-orang yang berbuat ihsan akan memaafkan.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 13.
[5] orang-orang yang beriman dan bertaqwa serta tetap istiqamah terhadap iman dan taqwanya.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 93.
Pertanyaannya. Apakah saya termasuk golongan ini? Semoga saja saya bisa termasuk dalam kelompok orang-orang yang berbuat ihsan. Aaamiiin. Tapi sepertinya kok butuh perjuangan berat dan panjang ya (istiqamah).
Bersambung ...
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Artikel sebelumnya ...
Apakah saya termasuk orang-orang yang berbuat ihsan? Dari ayat-ayat dalam posting sebelumnya, saya mendapatkan definisi berikut:
[1] Orang yang berbuat ihsan adalah orang-orang yang apabila membalas perbuatan, tidak melakukannya secara berlebihan.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Baqarah (2) ayat 194-195 di mana ketika orang-orang yang berbuat ihsan diserang, maka mereka diperbolehkan membalas dengan seimbang.
[2] orang yang berinfak di waktu luang maupun sempit.
Hal ini bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.
[3] orang yang bisa menahan amarahnya dan mampu memaafkan.
Hal ini juga bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.
[4] orang-orang yang apabila dikhianati oleh orang-orang yang berasal dari suatu kelompok, maka dia tidak membalas pada seluruh komponen kelompok tersebut, namun hanya membalas pada yang berkhianat. Adapun yang tidak berkhianat, maka orang-orang yang berbuat ihsan akan memaafkan.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 13.
[5] orang-orang yang beriman dan bertaqwa serta tetap istiqamah terhadap iman dan taqwanya.
Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 93.
Pertanyaannya. Apakah saya termasuk golongan ini? Semoga saja saya bisa termasuk dalam kelompok orang-orang yang berbuat ihsan. Aaamiiin. Tapi sepertinya kok butuh perjuangan berat dan panjang ya (istiqamah).
Bersambung ...
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Artikel sebelumnya ...
Saturday, November 3, 2007
Sesungguhnya ALLOH Mencintai Orang-orang Yang Berbuat Ihsan
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Sesungguhnya ALLOH SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Hal ini diungkapkan oleh ALLOH dalam surat al-Baqarah (2) ayat 194-195:
Begitu pula dalam surat Ali Imran (3) ayat 134
Juga dalam surat Ali Imran (3) ayat 147-148:
Dan dalam surat al-Maidah (5) ayat 13:
Serta dalam surat al-Maidah (5) ayat 93:
Bersambung ...
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Artikel Sebelumnya ...
Sesungguhnya ALLOH SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Hal ini diungkapkan oleh ALLOH dalam surat al-Baqarah (2) ayat 194-195:
الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (194) وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195
Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [194]
Dan nafkahkanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat Ihsan-lah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [195]
Begitu pula dalam surat Ali Imran (3) ayat 134
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan.
Juga dalam surat Ali Imran (3) ayat 147-148:
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148
Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". [147]
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [148]
Dan dalam surat al-Maidah (5) ayat 13:
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (13
Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [13]
Serta dalam surat al-Maidah (5) ayat 93:
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (93
Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [93]
Bersambung ...
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Artikel Sebelumnya ...
Friday, November 2, 2007
Alhamdulillah, Rasulullah Motivatorku
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Lagi-lagi, posting yang terinspirasi oleh posting yang lain , padahal posting sebelumnya belum selesai.
Melihat posting tersebut, saya jadi teringat ketika saya SMA sampai kuliah semester awal, di mana saya sering bertemu aktivis Islam muda di SMA dan kampus. Inilah kutipan yang sering saya dengar, "Rasulullah adalah suri tauladan yang paling baik", ketika muncul di forum resmi. Namun, sayangnya, ketika berdiskusi yang muncul adalah nama-nama semacam Amien Rais, Hidayat Nur Wachid, Anis Matta, dan A'Agym. Begitu pula kutipan-kutipan yang sering mereka jadikan pedoman hidup. Dengan hormat, tanpa mendiskreditkan kemampuan para tokoh tersebut, mereka tampaknya lebih dicintai daripada Rasulullah sehingga perkataan rekan-rekan terasa hanya di bibir di telingaku.
Ketidak-puasan menghinggapiku, aku pun menghindar dari rekan-rekanku saat itu, dan lebih banyak belajar Tafsir al-Qur'an dan Hadits ke Ustadz Soekamto dan Ustadz Sumardi. Sebuah pembelajaran yang membosankan, cuma 2 ayat dan 1 hadits per minggu.
Namun di situlah aku banyak termotivasi oleh al-Qur'an dan as-Sunnah, yang tidak hanya mencakup pembelajaran fiqih agama, juga fiqih hidup.
Sebagai misal, kalimat "Jangan sok suci, urusi keluargamu dulu", maka saya mengambil hikmah dari nabi Nuh dan nabi Sholeh di mana kelurga mereka durhaka. Tapi apakah itu berarti melarang mereka berdakwah?
Jika ada masalah yang sangat menyedihkan hati, aku pun membaca surat Yusuf di mana ada kisah nabi Yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudaranya dan dijadikan budak lalu dipenjara selama bertahun-tahun, atau Nabi Ayyub yang terkena penyakit kulit sampai gak sembuh-sembuh selama bertahun-tahun; lebih berat mana cobaanku dengan cobaan nabi Yusuf dan nabi Ayyub?
Masih banyak lagi yang saya baca selain dari Al-Qur'an dan tentunya as-Sunnah sebagai bahan pembelajaran.
Alhamdulillah, untung saja Rasulullah adalah motivatorku. Bandingankan apabila saya mengambil motivator dari kalimat-kalimat bukan al-Qur'an dan as-Sunnah namun dari orang-orang yang ditokohkan semacam comment tersebut , mungkin aku sudah mati bunuh diri sejak dulu. Gimana lagi, yang dikatakan, "Orang2 besar selalu memiliki semangat yang terkekang yang dibawa dari lahir.". Bayangkan, DARI LAHIR. Berbeda dengan yang dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang mengatakan bahwa KEPRIBADIAN BISA DIBIASAKAN. Bahkan sebelum Steven Covey mengatakannya, Rasulullah sudah memotivasi untuk istiqamah dengan amal kita. Tapi apa daya, al-Qur'an dan as-Sunnah ditinggalkan, perkataan orang lain yang dianut.
Jadi, benarkah Rasulullah suri tauladan kita? Saya sendiri belum bisa menauladani beliau, bahkan sepersepuluhnya pun belum, tapi saya ingin menjadikan apa yang beliau lakukan saat susah sebagai jawaban saat saya susah. Namun, saat gembira, tampaknya tiba-tiba saja terlupa ajarannya. Ya ALLOH ampunilah aku untuk mengambil sebagaian dan melalaikan bagian yang lain.
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Lagi-lagi, posting yang terinspirasi oleh posting yang lain , padahal posting sebelumnya belum selesai.
Melihat posting tersebut, saya jadi teringat ketika saya SMA sampai kuliah semester awal, di mana saya sering bertemu aktivis Islam muda di SMA dan kampus. Inilah kutipan yang sering saya dengar, "Rasulullah adalah suri tauladan yang paling baik", ketika muncul di forum resmi. Namun, sayangnya, ketika berdiskusi yang muncul adalah nama-nama semacam Amien Rais, Hidayat Nur Wachid, Anis Matta, dan A'Agym. Begitu pula kutipan-kutipan yang sering mereka jadikan pedoman hidup. Dengan hormat, tanpa mendiskreditkan kemampuan para tokoh tersebut, mereka tampaknya lebih dicintai daripada Rasulullah sehingga perkataan rekan-rekan terasa hanya di bibir di telingaku.
Ketidak-puasan menghinggapiku, aku pun menghindar dari rekan-rekanku saat itu, dan lebih banyak belajar Tafsir al-Qur'an dan Hadits ke Ustadz Soekamto dan Ustadz Sumardi. Sebuah pembelajaran yang membosankan, cuma 2 ayat dan 1 hadits per minggu.
Namun di situlah aku banyak termotivasi oleh al-Qur'an dan as-Sunnah, yang tidak hanya mencakup pembelajaran fiqih agama, juga fiqih hidup.
Sebagai misal, kalimat "Jangan sok suci, urusi keluargamu dulu", maka saya mengambil hikmah dari nabi Nuh dan nabi Sholeh di mana kelurga mereka durhaka. Tapi apakah itu berarti melarang mereka berdakwah?
Jika ada masalah yang sangat menyedihkan hati, aku pun membaca surat Yusuf di mana ada kisah nabi Yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudaranya dan dijadikan budak lalu dipenjara selama bertahun-tahun, atau Nabi Ayyub yang terkena penyakit kulit sampai gak sembuh-sembuh selama bertahun-tahun; lebih berat mana cobaanku dengan cobaan nabi Yusuf dan nabi Ayyub?
Masih banyak lagi yang saya baca selain dari Al-Qur'an dan tentunya as-Sunnah sebagai bahan pembelajaran.
Alhamdulillah, untung saja Rasulullah adalah motivatorku. Bandingankan apabila saya mengambil motivator dari kalimat-kalimat bukan al-Qur'an dan as-Sunnah namun dari orang-orang yang ditokohkan semacam comment tersebut , mungkin aku sudah mati bunuh diri sejak dulu. Gimana lagi, yang dikatakan, "Orang2 besar selalu memiliki semangat yang terkekang yang dibawa dari lahir.". Bayangkan, DARI LAHIR. Berbeda dengan yang dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang mengatakan bahwa KEPRIBADIAN BISA DIBIASAKAN. Bahkan sebelum Steven Covey mengatakannya, Rasulullah sudah memotivasi untuk istiqamah dengan amal kita. Tapi apa daya, al-Qur'an dan as-Sunnah ditinggalkan, perkataan orang lain yang dianut.
Jadi, benarkah Rasulullah suri tauladan kita? Saya sendiri belum bisa menauladani beliau, bahkan sepersepuluhnya pun belum, tapi saya ingin menjadikan apa yang beliau lakukan saat susah sebagai jawaban saat saya susah. Namun, saat gembira, tampaknya tiba-tiba saja terlupa ajarannya. Ya ALLOH ampunilah aku untuk mengambil sebagaian dan melalaikan bagian yang lain.
Oleh:
Ali Sofyan Kholimi
Subscribe to:
Posts (Atom)